Friday, April 21, 2017

A Wacky Impromptu Birthday Surprise

A few days ago, I threw my man a little surprise on his birthday. Technically, it was a surprise. But, would you call it a surprise if the victim could tell that he was about to get surprised beforehand? I guess not.

I drove to the front of his house street with a present I wrapped myself and a bag of McDonald's a la carté Cheeseburger as his birthday cake. I called him via LINE just to listen to how he was abusing his monitor by playing this new RPG game that he just downloaded. "Do you know how much my Damage Point is," he asked, "one million!"

I have never been good at giving birthday surprises, including this one. As I called, he was about to drive his Mother and his niece to a hospital nearby and I was slightly devastated by how my birthday surprise didn't go according to my plan. I managed to buy some time tho, as I was trying to brainstorm for an impromptu plan B, until he finally said, "Aku jadinya keluar abis shalat ashar." Boom!

"Oke, sekarang ganti baju, jalan kaki ke depan, aku tunggu di parkiran kantor pos, bye," I said to him. I could hear his ungrateful, "Laahhh?!" just before I cut off the line.

Finally, after a ten-minute wait and a quick call from him, making sure that he was about to get a birthday surprise, he came. He had this smug on his face, knowing that he was probably about to get cake allover his face in a matter of minutes. I couldn't contain myself from bursting out this bucketful of nervousness I had contained of wanting to make this surprise a success and it just spilled everywhere.

I brought out the birthday burger, penetrated the "2" and "3" candles into the bun to spell out his age, lit them up, and awkwardly shouting "Happy Birthday!" We both didn't know what to do with ourselves we ended up laughing. It was awkward, a bit cringey in a way, but cute. I handed him the burger, telling him to blow the candle, and he accepted the so-called birthday cake awkwardly as well and requested to be sung "Tiup Lilinnya".

"Make a wish," I told him after an ugly one-woman singing show. He made a wish and blew the candle. We, then, immersed in laughter. Never in my life I pull out a birthday surprise this wacky.



Sunday, April 16, 2017

Taco Local: Good Food, Bad Service

Pagi ini, sepulang dari kebaktian Minggu Paskah, gue dan Ibu gue mampir ke Taco Local untuk nyemil kue lapis. Eh, bukan, nyemil Taco maksudnya. Sekitar jam setengah sepuluh kurang, gue telfon nomor telfon tempat makan ala Mexico tersebut untuk mengonfirmasi kebenaran jam bukanya, sesuai dengan informasi yang gue dapat dari ZOMATO yaitu dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, tapi sayangnya sambungannya sedang sibuk. Ya sudah, gue beranikan diri untuk langsung datang ke tempatnya. Eh, bener dong, sampai di sana masih belum buka. "15 menit lagi, Bu," kata Bapak tukang vallet. Emangnya gue setua itu, ya?



Seperti biasa, parkiran di Pelaspas Dharmawangsa selalu penuh kendaraan - entah itu mobil punya pelanggan atau punya pemilik kedainya - sehingga, mau nggak mau, gue harus menggunakan jasa vallet. Lumayan manusiawi, kok, harganya hanya Rp25.000,00. Tapi, ya, kalau di warteg, dengan nominal segitu bisa beli makan dua kali, sih.


Pelaspas Dharmawangsa ini, sebenernya, adalah gedung yang isinya berbagai macam cafe dan tempat makan - kurang lebih konsepnya sama dengan ShopHaus yang ada di Menteng. Dua tempat favorit gue di Pelaspas Dharmawangsa adalah SNCTRY, yaitu health bar yang menyajikan varian Smoothie Bowl yang enak dan sehat, dan Taco Local, warung makan Taco yang meskipun Taconya enak dan gue doyan banget tapi pelayanannya sangat sangat kurang.



Iya, pelayanannya kurang. Dari sepuluh bintang, mungkin akan gue kasih tiga setengah. Jahat, ya? Maaf, ya. Tapi, begitulah adanya.

Pas sekitar 15 menit menuju jam sepuluh, gue akhirnya memesan menu Taco untuk gue santap bareng Ibu gue. Saat gue pesan pun, abang waiter-nya masih agak kelabakan untuk melayani karena alasan yang nggak gue tau apa. Dia udah mengambil kertas untuk mencatat pesanan gue, tapi kemudian keluar untuk mempersilahkan masuk bapak Go-Jek yang, mungkin, udah nunggu-nungguin tempat itu buka dari jam sembilan tadi. Gue di situ speechless. Nggak ada "Ditunggu sebentar, ya, Kak" atau "Maaf, ya, Kak", langsung nyelonong keluar dan kembali lagi ke depan gue tanpa dosa. "Iya, Kak, pesanannya," tanyanya.



Karena sebelumnya gue udah pernah nyemil di Taco Local bareng Icha dan Angel, dua sahabat gue dari jaman SMP sampai sekarang, jadi gue nggak terlalu bingung mau pesan apa. Gue pesan dua, yaitu Carnitas Taco dan Lengua Taco. Dua-duanya nggak halal, alias berlimpah daging babi, tapi uenaknya pol!



Di sini, gue menemukan satu lagi yang disayangkan dari Taco Local, yaitu pemilihan prioritas pelanggan. Sepengetahuan gue, gue adalah pemesan pertama, baru yang kedua adalah bapak Go-Jek yang tadi gue ceritain. Tapi, pesanan bapak Go-Jek itu selesai lebih dulu daripada gue dan gue harus menunggu sampai, kurang lebih, dua puluh menit untuk pesanan gue disajikan. It's not that big of a deal, to be honest, but I tend to notice small things like that. Dan, dari beberapa video yang gue temukan di YouTube mengenai Taco asli asal Mexico, nggak lebih dari lima menit, lho, untuk para pedagang asongan menyajikan satu porsi Taco. Satu porsi isi berapa, ada yang tau? Lima.

Akhirnya, datanglah Carnitas Taco dan Lengua Taco kami. Yang langsung gue lahap tanpa malu-malu adalah Carnitas Taco, Taco isi suwiran daging babi panggang manis bersimbah saus salsa yang asam dan menyegarkan, olesan Guacamole, yaitu saus cocol yang terbuat dari buah alpukat dan perasan buah lemon, potongan nanas panggang, dan kerupuk babi sebagai pelengkap. Wuih, sedapnya beneran sedap. I totally dig Taco Local for its' delicious Taco. 




Sayangnya, ada yang kurang, yaitu kerupuk babi, atau crispy pork rind-nya. Gue tanya lah ke abang waiter-nya, mumpung belum gue lahap habis Taco yang satunya lagi. "Mas, kerupuk babinya nggak ada, ya," tanya gue. Spontan Masnya terkejut dan membalas gue dengan, "Iya, Kak, crispy pork rind-nya nggak ada. Belum ready, Kak." Huh, seketika dongkol.

"Tapi, harusnya memang ada di menunya kan ya, Mas, cuma nggak ready aja," tanya gue lagi.

"Iya, Kak, belum ready. Tadi saya mau menginfokan, tapi lupa. Maaf ya, Kak," balasnya.

Manis banget senyuman gue, padahal dalam hati dongkol. "Iya, Mas, nggak apa-apa. Makasih, ya."



Lengua Taco punya Ibu gue pun nggak ada kerupuk babinya, hanya ada potongan lidah sapi yang empuk, agak kenyal, dan gurih, Guacamole, dan saus salsa. Sekian. Meskipun rasanya tetap enak dan menyenagkan, tetap saja nggak ada elemen yang bikin nendang. Sama kayak makan tahu gejrot pakai kuah pedas, asam, manisnya, tapi nggak ada potongan cabe dan bawang merah. Nggak nendang. Tapi, ya sudah, lah. Seenggaknya ngidam gue dari semingguan ini untuk makan Taco terselesaikan.

Lalu kemudian, ada aja lagi yang miss, yaitu saat mau bayar. Mereka nggak ada uang kembalian. Alhasil, gue dan Ibu gue harus menunggu lagi selagi salah satu abang waiter-nya nuker duit, baru kami bisa pulang. Itu pun kembaliannya nggak sesuai, karena mereka nggak punya koin Rp500,00. Mungkin, kalau gue jadi pedagang, gue akan siap sedia seember koin lima ratusan. Biar kalau ada pelanggang bayar dan butuh kembalian, gue kasih serenceng lima ratusan dibalut selotip sekalian.


P.S. Buat kalian yang belum pernah nyemil-nyemil lucu di SNCTRY, kalian harus coba ke sana. Meskipun harganya agak kurang bersahabat untuk mahasiswa dan pelajar, tapi kualitasnya memang bagus banget. Tadi gue beli dua botol fresh-pressed juice botolan yang udah ready, yaitu Berry Glow Juice dan Refresh Juice.

Berry Glow adalah jus dari campuran buah strawberry, apel, kelapa, dan air kelapa. Rasanya manis, agak kecut dari buah apelnya, dan rasa strawberrynya sangat dominan. Gue suka banget! Sementara Refresh Juice, yang terbuat dari campuran buah melon, timun, apel, daun mint, dan lemon itu lebih ke segar dengan kombinasi rasanya yang lebih unik. Ibu gue doyan banget yang ini.

Kebetulan, saat gue beli, pas lagi ownernya yang jaga. Beliau ternyata adalah saudara dari salah satu teman gue di STPI. Cantik dan ramah banget dengan pelanggan, gue sampai salah tingkah. Mau salam dan bilang, "Kak, aku ngefans banget sama SNCTRY, makanannya enak-enak!" tapi malu.



Taco Local
Pelaspas Dharmawangsa
Jl. Dharmawangsa Raya No. 4

Opening Hours:
Monday - Thursday: 12PM - 10PM
Friday - Saturday: 12PM - 12AM
Sunday: 9AM - 9PM


SCNTRY
Pelaspas Dharmawangsa
Jl. Dharmawangsa Raya No. 4

Opening Hours:
Monday - Friday: 7AM - 8PM
Saturday - Sunday: 8AM - 7PM

Saturday, April 15, 2017

Perjuangan Beli Keripik

Udah hampir enam bulan lamanya gue nggak terbang dan gue kangen. Dulu, bisa setiap hari gue terbang, bahkan dua sampai tiga kali dalam satu hari. Gempor, sih, untungnya nggak sampai thypus, but it was fun while it lasts. 

Ada, dari seluruh penerbangan yang gue lakuin semasa gue jadi taruna, yang paling nggak bisa gue lupain, yaitu pas terbang solo gue ke Lampung. Gue benar-benar terbang sendirian ke Lampung dan saat itu cuacanya lagi kacau. Sekacau jamban yang habis dimampirin setelah semalamnya gue makan Samyang dan Sate Taichan pakai Bon Cabe. Kebayang, kan?


Gue berangkatnya udah agak siang, sekitar jam sembilan lewat. Padahal harusnya gue terbang jam tujuh pagi, tapi karena satu dan lain hal, gue harus berangkat dua jam setelahnya. Jam segitu, langit udah mulai dipenuhi awan, namanya awan cumulus. Semakin siang, semakin banyak awan, dan ukurannya semakin besar.

Gue paling takut sama yang namanya turbulance. Mau itu karena masuk awan, ketampar angin, maupun goyangan kecil karena pas takeoff dapat crosswind, semuanya gue nggak suka. Untungnya, pas pergi ke Lampung, cuacanya masih bagus, jadinya adem-adem aja dan semuanya berjalan dengan lancar. Tapi, pas balik ke Budiarto, gue harus nembus awan gegara waktu itu udah satu jam menuju siang bolong dan tebal awannya nggak karuan. Gue nggak ada pilihan lain selain menembus awan, mau cari celah pun nggak bisa karena bentangan awannya rata. Setengah jam terakhir sebelum gue mendarat di Budiarto, gue sempat nggak berhenti mengucapkan, "Tuhan Yesus pimpin" setiap detiknya karena gue masuk awan. Kacau, sih, kalau disuruh ngulang lagi gue ogah. Tapi, untungnya, gue mendarat dengan selamat di Budiarto.


Nah, yang paling gue suka dari penerbangan gue ke Lampung adalah oleh-olehnya. Yak, Keripik Pisang Kepok! Dengan perjalanan ini, secuil cita-cita gue sebagai pilot, yaitu jalan-jalan keliling dunia dan nyobain setiap makanan dari setiap daerah yang gue singgahi, tercapai. Gue berhasil ke Lampung dan beli jajanan khas Lampung, yaitu si Keripik Pisang Kepok.

Dari semua varian rasa yang pernah gue coba, Melon, Strawberry, Coklat, Susu, Asin, Keju, Manis, yang paling gue suka adalah rasa coklat. It's my favorite! Keripik pisangnya renyah banget, ada yang tebal ada yang tipis, dan semuanya berbalur bubuk coklat yang bikin nagih bukan main. Gue paling demen kalau udah tinggal sisa remah-remah pisang, dengan gumpalan-gumpalan bubuk coklatnya. Sedap bukan main!


Udah menjadi tradisi kami, taruna penerbang, untuk selalu membawa oleh-oleh khas Lampung yang satu ini setiap kami menyelesaikan terbang kami ke Lampung. Gue udah melewati stage itu dan gue seneng banget. Lebih senengnya lagi, gue berhasil bawain "hasil terbang" gue ke Ibu dan Bapak gue. Mereka masing-masing gue bawain Keripik Pisang Kepok, satu rasa Keju, satunya lagi rasa Manis.

Wall's' Vanilla & Chocolate Ice Cream Sandwich

A few years back, Wall's released this Vanilla & Chocolate Ice Cream Sandwich that went popular for months. For only Rp7.500,00 you can enjoy this luxury item that you can find in, almost, every supermarket in Indonesia. Why is it a luxury item, you asked? This is because there isn't many ice cream factory here, in Indonesia, that produce Ice Cream Sandwich. Sad, right? I even think Wall's is the first one that actually have sandwiched ice cream as one of its' wade varieties of ice cream selection. 


Indonesia is rather famous for its' sugary sorbet ice cream. Strawberry flavor, mango flavor, grape flavor, you name it. All of those sugary goodness was just good while it lasts and it immediately gave me a sore throat for, at least, four days afterwards. Delicious, but deadly. 
We don't have many option for Ice Cream Sandwich like they do in the United States. We don't have any Klondike Bar, or Blue Bunny's Triple Delights, or even the Fat Boy Ice Cream Sandwich. Heck, we are even missing the famous Oreo Ice Cream Sandwich, for God's sake. The only choice of sandwiched ice cream that we have is from Wall's and Häagen-Dazs, and we all know, the last brand is not financially friendly for those who don't have jobs, yet. 


There was this period of time when I was so crazy about this Ice Cream Sandwich. A combination of vanilla and chocolate ice cream, sandwiched between soft vanilla biscuits that has printed comics on it, that costs me under ten thousand rupiah is just awesome. My boyfriend knows that I love it so much, at some points, he always brought one whenever he picked me up for a night out. 

This stuff, even though it's merely ice cream, is quite filling. It's sweet and light, but it fills your stomach for a bit, especially when you're hangry, but you're stuck in a traffic. Man, does this ice cream helps. 


Cerita (Nggak Diajak) Ngampung

Dulu, jamannya masih hidup di barak, kadang kalau lagi bosen, gue suka kabur malam-malam dengan kawan-kawan gue. Kadang gue orangnya cukup prosedur, taat peraturan maksudnya, tapi cuek-nya gue lebih besar ketimbang ketakutan gue untuk dihukum. Gue lebih pingin bersenang-senang, meskipun ada kemungkinan buruk yang bisa terjadi kedepannya, ketimbang nggak ngapa-ngapain karena takut. Akhirnya, ada suatu masa di mana gue sering banget lompat tembok barak dan kabur ke tempat hiburan terdekat. Kita, para taruna, nyebutnya "ngampung".

Ngampung ini udah ada dari jaman Bapak gue jadi taruna, dulu banget sekitar tahun 1980-an. Ada yang bilang ngampung, ada juga yang bilang "ngota", yang arti kasarnya adalah main ke kampung, atau ke kota. Sederhananya, kita kabur dari barak untuk cari hiburan.

Hiburan bagi gue saat itu adalah, nggak kurang dan nggak lebih dari, jalan dan jajan. Gue diajak ngampung buat beli martabak aja udah seneng, apalagi waktu itu sering diajak ngampung ke Enigma. Enigma itu adalah semacam tempat nongkrong di Serpong - bisa makan, bisa mimik-mimik cantik, bisa juga main billiard - cuma sekitar setengah jam perjalanan pakai kendaraan sewaan dari barak.

Dalam hal ngampung, gue hanya sebagai profokator pada siang hari, yang tugasnya manas-manasin kawan-kawan gue dengan, "Eh, ngampung, yuk!" atau "Aduh, pingin martabak, deh." Masalah jadi ngampung atau nggaknya tergantung inisiatif yang lain, pada mau gerak, atau pada males. Biasanya gue selalu dikabarin sahabat gue kalau jadi jalan. "Ket, ikut ngampung, nggak," katanya. Gue akan ngampung kalau dia ngajak, tapi nggak pernah gue inisiatif ngampung sendiri, kecuali waktu itu saat gue dan teman-teman barak gue ngidam banget makan pizza dan akhirnya gue nekad kabur berduaan naik motor demi beli dua loyang Pizza Hut. Dedikasi tanpa batas!

Pernah suatu kali, gue nggak diajak ngampung, entah alasannya kenapa. Sedih, dong, rasanya kayak didepak dari geng, padahal mungkin dia cuma lupa ngajak aja. I have this tendency to overthink stuff and take something way far more serious than it should be, but I forced myself not to dan pura-pura nitip martabak sebagai oleh-oleh. "Mau martabak, hehehe," kata gue manja dan dibalas dengan, "Mahal, ngapain juga beliin lo martabak." Rasanya pingin nyebur ke sawah sebelah barak.

Berhubung barak gue difasilitasi dengan modem wifi.id, jadilah gue begadang berduaan dengan laptop, sementara dua teman barak gue udah pada di dunia mimpi masing-masing. Tiba-tiba gue dapat LINE call dari salah satu kawan gue, menginstruksikan gue untuk ke koridor barak. "Ket, koridor bentar, dah," katanya.

"Ngapain, Pin" tanya gue.

"Dibawain martabak nih sama si Puki," balasnya.


Wah, langsung lupa diri. Gue mencolot dari kasur, buru-buru pakai celana training dan kaos olahraga, dan meluncur ke koridor barak. Waktu itu belum ada CCTV, jadi taruna masih bebas berkeliaran diatas jam tidur. Kalau sekarang, mah, udah lebih ketat.

Bener, dong, gue dibawain martabak. Pertama dan terakhir kalinya. Dan gue sekaget itu karena gue tau betapa meditnya sahabat gue yang satu itu (baca cerita gue yang ini, deh). Seketika langsung seneng. Setelah gue terima kotak martabaknya, gue balik ke barak, dan bangunin teman-teman gue.

"Wey, martabak, nih," teriak gue.

Ngemil, deh. Abis itu ngantuk. Kemudian tidur nyenyak.



Bagi gue, orang yang paling baik di dunia adalah orang yang ngasih gue makanan. And, boy, you're one and always have been.