Monday, October 15, 2018

Twins Fried Chicken

Twins Fried Chicken telah membuka cabang pertamanya di foodcourt Menara Thamrin pada tanggal 3 Oktober yang lalu. Beruntung, gue diundang Mbak Sinta (salah satu pekerja di Twins Fried Chicken) untuk mencoba ayam gorengnya, yang kemudian akan gue ulas. Gue pun diperbolehkan untuk membawa seorang teman, oleh karena itu gue mengundang Anggita: indra perasa nomor dua gue (nomor satunya Ibu gue). 

Terletak di pojok dalam foodcourt, Twins Fried Chicken harus bersaing dengan kios-kios lain yang juga menjual makanan. Untungnya, hanya TFC saja yang mempunyai konsep ayam goreng siap saji, sehingga tidak ada saingan secara langsung. 




“Kami baru buka bulan Oktober ini, Kak,” jelas Mbak Sinta, “jadi belum ada cabang lain dari Twins Fried Chicken selain di sini.”. Mbak Shinta juga kemudian menjelaskan mengenai pilihan makanan yang mereka sajikan di kiosnya dengan sangat sabar dan atentif. Lalu gue menanyakan satu hal yang dari tadi membuat gue penasaran, yaitu simbol dari Twins Fried Chicken yang adalah dua gadis berpakaian baju tradisional dari Jepang dengan tulisan tahun “2005” di bawahnya. “Jadi, yang punya Twins Fried Chicken ini punya dua anak perempuan kembar dan mereka lahir di tahun 2005,” jelas Mbak Sinta. A family-oriented person, I see. 

Menunya ditulis di sebuah papan hitam menggunakan kapur berwarna. Awalnya gue sangat malas membacanya karena gue udah pusing duluan karena melihat warna-warna yang beragam dalam satu area, tapi akhirnya berhasil setelah gue paksa diri gue untuk memfokuskan pandangan. 

Gue bikin hitam putih supaya kalian nggak pusing karena terlalu warna-warni.

Ada 4 tahap yang bisa mempermudah kalian untuk menentukan pesanan apa yang kalian mau dari Twins Fried Chicken:

  1. Pilih Ukuran Makanan
Ukuran penyajian makanan di Twins Fried Chicken terbagi menjadi tiga, yaitu Single Fried Chicken (Rp15.000,00), Twins Fried Chicken (Rp28.000,00), dan Twins Fried Chicken with Rice (Rp28.000,00). Gue nggak ngerti kenapa ukuran yang kedua dan yang ketiga mempunyai harga yang sama, padahal sudah jelas lebih menguntungkan kalau pakai nasi. 

  1. Pilih Bumbu dan Tingkat Kepedasan
Sebenarnya bumbunya ada tiga macam saja, yaitu Chilli, Garlic Salt, dan Matcha. Hanya saja, bumbu Chilli tersebut mempunyai empat tingkat kepedasan, dari Level 1, Level 5, Level 10, dan Level 15. Untungnya di sini mereka menggunakan bubuk cabai, dan bukan cabai asli. Kalau cabai asli, sih, bibir gue keburu nyonyor duluan di gigitan pertama. 

  1. Pilih Saus
Kalian bisa pilih satu dari tiga saus ini untuk menemani ayam berbalut bumbu kalian. Pilihannya terdiri dari Honeymustard (my favorite sauce of all time, yay!), Barbeque, dan Salted Egg. 

  1. Pilih Minuman
Sebenarnya minuman tidak termasuk dari paket makanan Twins Fried Chicken, karena kalian tetap harus membayar beberapa lembar ribuan lagi untuk satu botol air mineral (Rp5.000,00) dan satu botol es teh manis (Rp8.000,00). 


Karena kemarin adalah hari perdana pembukaan Twins Fried Chicken, gue memutuskan untuk mencoba beberapa variasi dari bumbu-bumbu dan saus-saus tersebut agar gue bisa membuka jalan untuk kalian menikmati ayam goreng yang hanya berlokasi di Menara Thamrin ini secara optimal 

Pertama, kita bahas ayam gorengnya dulu, ya! Nah, bentuk dari ayam gorengnya sendiri itu nggak beda jauh dengan chicken popcorn, atau chicken pok pok, atau gampangnya chicken nugget berbentuk tatter tots. Pada intinya bentuknya kecil-kecil seukuran ibu jari, sehingga mudah untuk disantap dan memberikan visualisasi yang memuaskan - karena satu porsi Single Fried Chicken itu nggak terlalu banyak, tapi karena bentuknya kecil-kecil jadi terlihat berlimpah. 


Kulitnya sangat renyah dan dagin di dalamnya cukup empuk. Ayam yang digunakan adalah ayam asli, bukan ayam olahan seperti chicken nugget di McDonald, karena ada tekstur suwiran dagingnya ketika gue gigit. Hati-hati, buat kalian yang sedang diet. Nikmatnya nyemilin potongan ayam kecil-kecil yang digoreng sampai garing ini nggak ketulungan. Bisa jadi kalian akhirnya merasa kenyang, tapi di porsi keempat. 

Mengenai rasa, ada satu rasa yang ketara sekali di lidah gue dan Anggita, yaitu rasa jahe. Pedas dan hangatnya nggak terlalu terasa, tapi kami berdua yakin itu adalah rasa jahe. Mungkin itu cita rasa khas dari Twins Fried Chicken. Nggak terlalu mengganggu, kok, meskipun gue nggak suka jahe. Tapi, tetap saja terasa kuat. 

Dari berbagai macam bumbu dan saus yang disajikan di Twins Fried Chicken, gue dan Anggita memutuskan untuk memilih empat macam bumbu saja, yaitu Chilli Level 1, Chilli Level 15, Garlic Salt, dan Matcha, dan semua ketiga saus yang ada. Alasan kami memilih untuk mencoba bumbu pedas dengan tingkat yang paling rendah dan tingkat yang paling tinggi adalah agar orang-orang bisa mengira-ngira tingkat kepedasan yang mereka mau. Kebetulan Anggita kuat pedas, sedangkan gue tidak kuat. Kalau gue berhasil mencicipi bumbu pedas yang paling pedas, berarti bumbu tersebut sebenarnya tidak pedas. Kalau Anggita sampai nangis mencicipi bumbu pedas yang paling pedas, berarti orang-orang seperti gue terancam akan menyibukkan diri di kamar mandi keesokan harinya. 

Ayam Twins Fried Chicken yang sudah digoreng kemudian akan dimasukkan ke dalam kantung kertas, lalu bumbu akan ditaburkan di dalamnya, dan ayam akan dikocok-kocok di dalam kantung tersebut sampai bumbunya menempel dengan baik. Konsepnya sama seperti Shilin. Lalu, saus akan dituangkan juga ke dalam kantung kertas itu, kemudian kalian akan diberikan tusuk sate untuk menyantap makanan kalian. Karena menurut gue bumbu dan saus yang dicampur bisa merusak rasa asli dari kedua elemen tersebut, gue meminta Mbak Shinta untuk menyajikan ayam dengan bumbunya dulu, dengan saus yang dipisah agar gue dan Anggita bisa mencicipi masing-masing rasa.

Kalian masih di sini, kan? Ini, lah, saatnya untuk membedah rasa!

  1. Seasoning Level 1 (paling tidak pedas)
Pedasnya sangat sedikit, lebih ada rasa pahit dari yang gue asumsikan adalah bubuk lada. Asinnya cukup, gurihnya cukup, dan nggak terlalu berasa seperti metsin. Sangat cocok untuk kalian yang nggak kuat sama sekali dengan pedas, tapi dalam diri penasaran ingin icip-icip berhadiah keringat dan perut melilit.


  1. Seasoning Level 15 (paling pedas)
Anehnya, gue pun masih bisa menyantap ayam berbalut bumbu pedas tingkat 15 ini dengan santai. Pedasnya lebih terasa dibandingkan dengan Seasoning Level 1, tapi nggak membuat gue kepedasan. Beberapa kali sempat batuk karena rasa pedas pahit yang agak membuat kerongkongan gue kaget. Sedikit berkeringat, sih, setelah beberapa potong, tapi tetap bisa dinikmati.


  1. Garlic Salt
Ini adalah bumbu yang paling gue suka! Rasa bawangnya manis dan gurih. Agak ada rasa asam, tapi rasa asam yang enak. Gurihnya benar-benar nendang! Sangat gue rekomendasikan untuk kalian yang hobi ngegadoin bumbu kering Indomie Goreng. Rasanya nggak mirip, tapi kenikmatan dari bumbu tersebut nggak bisa dibohongi. 


  1. Matcha
Bumbu ini nggak cocok sama sekali dipadukan dengan ayam. Terlebih lagi, rasa matcha di sini adalah matcha manis, bukan matcha pahit sebagaimana rasa matcha itu sendiri seharusnya. Memang, ada beberapa sajian ayam manis yang nikmat untuk disantap, seperti Ayam Goreng Kecap, Ayam Asam Manis, Ayam dengan Saus Sechuan, tapi bukan yang satu ini. Gue cukup tersiksa dengan bumbu yang satu ini. Kalian harus coba dulu sendiri untuk setuju, atau tidak setuju, dengan pendapat gue. 


Dari sini, semuanya akan menjadi lebih seru lagi dengan adanya saus. Kombinasi rasa!

Setelah gue dan Anggita berdebat selama beberapa menit, menentukan saus mana yang cocok digabungkan dengan bumbu yang mana, akhirnya kami mendapat kombinasi yang nikmat. Tapi sebelumnya, gue akan membahas dulu masing-masing rasa dari bumbu tersebut. 

Kiri ke Kanan: Saus Barbeque, Saus Honeymustard, Saus Salted Egg

  1. Saus Barbeque 
Nama saus ini agak rancu karena di papan menu tertulisnya “Saus Original”, sedangkan di menu selebarannya bertuliskan “Saus Barbeque”. Namun, setelah gue dan Anggita cicipi, saus ini terasa persis seperti saus tomat yang diaduk dengan air. Kalian ngerti, kan, rasa saus spaghetti La Fonte seperti apa? Nah, ini dia. Hanya saja ditambahkan air dan nggak pakai daging cincangnya. Gue nggak suka dengan manisnya saus ini, tapi cukup menghibur ketika dituangkan pada potongan daging ayam goreng. 

  1. Saus Honeymustard
Meskipun rasa saus ini nggak bisa dibandingkan dengan rasa saus yang Subway punya, tetap saja gue suka banget dengan kombinasi rasa manis yang seperti madu dan rasa pedas dari saus mustard. Teksturnya cukup kental namun halus, dan warnanya kuning seperti warna saus mustard itu sendiri. 

  1. Saus Salted Egg
Jangan! Jangan pakai saus ini. Menurut gue, saus ini nggak ada nikmatnya sama sekali. Teksturnya seperti kuning telur yang dihancurkan dengan blender, kemudian dicampurkan dengan air, diaduk-aduk sampai agak kental, kemudian baru disajikan. Rasanya amis dan berminyak, tidak ada rasa manisnnya sama sekali, dan tidak ada rasa creamy seperti saat kita menyantap telur asin. Ada rasa yang tertinggal di pangkal lidah setelah gue menelan saus tersebut dan itu sangat bau dan mengganggu. Anehnya, Anggita sangat menyukai saus yang satu ini. Sekali lagi, kalian harus coba sendiri untuk berpihak pada gue, atau Anggita. 

Kombinasi yang bumbu dan saus yang paling cocok, menurut gue dan Anggita, adalah:
  • Chilli Seasoning (level berapa aja) dengan Saus Barbeque
Manis dan pedas menjadi satu, dan semakin tinggi tingkat kepedasan bumbunya, semakin nikmat ayam goreng tersebut terasa. 


  • Garlic Salt Seasoning dengan Saus Honeymustard
Kombinasi dari surga! Rasa gurih dari bawang dan manis dari madu, bercampur dengan pedasnya mustard dan asin dari garam, membuat santapan yang satu ini mempunyai konsep rasa seperti permen Nano-nano: ramai rasanya! Gue berhasil menghabiskan satu porsi ayam goreng dengan kombinasi bumbu ini sendiri. 


  • Matcha Seasoning dengan Saus Salted Egg
Anggita lahap sekali menghabiskan ayam yang ditaburkan bumbu matcha dan saus salted egg ini. Dia benar-benar nggak berhenti. Bahkan dia menggabungkan ayam dengan bumbu lain pula dengan saus terkutuk ini. Yah, mungkin dia suka rasa itu. Tapi, gue nggak. 


Setelah kami selesai menyantap sajian ayam goreng dari Twins Fried Chicken. Kami melepas dahaga dengan air mineral dan es teh manis yang disajikan dalam botol berbentuk bohlam lampu yang sangat lucu. Kedua minuman ini disajikan dingin, sangat cocok dikonsumsi setelah makan besar karena rasanya yang benar-benar segar. 


Empat porsi Single Fried Chiken dengan berbagai macam bumbu itu berhasil membuat gue dan Anggita kenyang bego. Kami bahkan nggak sanggup untuk menghabisi semua, akhirnya kami membawa pulang satu kantung. 


Lapar nggak, sih, kalian setelah membaca ulasan gue mengenai Twins Fried Chicken? Gue, kok, rasanya agak lapar, ya. Untungnya, gue masih punya Indomie Kari Ayam dan beberapa potong Ayam Bumbu Kuning di freezer yang bisa gue hangatkan untuk makan malam hari ini. Kalian makan apa?


Twins Fried Chicken
Foodcourt Menara Thamrin
Ground Floor, Stall C6
Jl. M. H. Thamrin No. 3
RT002 RW001, Kebun Sirih 
Menteng Kota, Jakarta Pusat
Jakarta 10340

Opening Hours: 
MON - FRI: 10AM - 4PM
SAT: 10AM - 2PM

Contact:


P.S. I'm so sorry for the yellow photos. I didn't have any external lightings with me and the warm foodcourt's lighting made it worst. I tried my best in editing the saturation of the photos, but my photos only turned less yellow. I'm sorry! Do visit the stall itself to experience its' true colors. 

Sunday, October 14, 2018

Cerita Terbang Hari Ini

Hari ini gue terbang dengan kapten yang lebih rela nggak sampai destinasi lebih awal demi menghindari awan besar yang membentang sepanjang ratusan kilometer, panjang atas bawah dan kiri kanan. Dari airways yang kami lalui, kami sampai harus menghindar 90 kilometer jauhnya demi nggak menabrak awan tersebut. Itu kami hanya kena serempetan buntut awannya saja, tapi goyangannya cukup terasa. Gue sampe berhenti makanin kacang saking tegangnya pegangan sama dashboard. 

Sebenarnya kami punya beberapa pilihan lain selain menghindar, yaitu naik ke flight level yang lebih tinggi, atau mantengin airways kami dengan resiko ayan masal, baik flight crew dan tamu kami yang terhormat, selama 15 menit gara-gara pesawat kena goncang. Sayangnya, flight level lainnya sudah diambil oleh pesawat lain dan pilihan kedua, kalau beneran dilakuin, adalah pilihan yang bodoh. Alhasil, gue dan kapten setuju untuk menghindari awan saja. Jauh nggak apa-apa, yang penting nggak sport jantung.

Awan itu, meskipun dari daratan dan dari jendela pesawat kelihatannya cantik dan menggemaskan, sebenarnya berbahaya. Ada tingkatan-tingkatan bahayanya, tergantung jenis awannya seperti apa. Gue akan menjelaskan secara singkat di sini bukan dengan bahasa penerbangan supaya kalian, yang gue heran kenapa sedang baca blog post gue yang ini, bisa mengerti. Yuk, simak.

Cantik, tapi mematikan.

Awan putih yang kelihatan tebal seperti bulu domba ternyata nggak seempuk yang kalian bayangkan. Awan itu berisi muatan air yang sangat-sangat berat sampai kalau sayap pesawat gue nyerempet sedikit saja dari gumpalan uap itu, pesawat gue akan berguncang sangat dahsyat. Pada saat itu, mungkin tanda sabuk pengaman yang ada di langit-langit pesawat sudah menyala dan penggunaan kamar kecil tidak disarankan. Pada saat itu juga gue tengah mencengkram pinggiran dashboard dengan tangan kanan gue, sementara tangan kiri gue sibuk mengatur kecepatan pesawat dengan FCU (kependekan dari Flight Control Unit, yang adalah deretan tombol untuk mengatur beberapa hal dalam pesawat, termasuk kecepatannya). Keringat gue sudah pasti bercucuran dan kemungkinan besar gue menjeritkan, "TUHAN YESUS PIMPIN. TUHAN YESUS PIMPIN," dalam hati.

Di pesawat gue, ada enam buah monitor yang gue pakai dalam penerbangan, salah satunya berguna untuk memantau awan. Monitor ini dinamakan ND (Navigation Display) dan ia bekerja sama dengan weather radar yang terpasang di radome (sebutan dalam dunia aviasi untuk bagian hidung pesawat, atau bagian "moncong"). Weather radar bisa mendeteksi tingkat presipitasi air pada udara, atau bahasa yang lebih gampangnya adalah uap air, yang kemudian dipresentasikan di ND dalam corak abstrak berwarna hijau, kuning, merah, dan magenta. Yang barusan gue sebutin adalah warna untuk tingkatan uap air dari rendah ke tinggi. Semakin tinggi kandungan air, semakin bahaya pula apabila pesawat masuk ke dalamnya.

Contoh gambaran weather radar pada ND. Gambar diambil dari Google.

Selama masa pendidikan, gue selalu diajarkan untuk tidak masuk awan. Setiap ada awan, menghindar. Lihat dulu situasinya, pantau melalui jendela secara visual dan pantau juga dengan weather radar. Apabila awan itu kelihatan tipis dan tidak akan menyebabkan guncangan yang terlaly kencang, nggak apa-apa kalau mau ditrabas. Tapi, kalau di monitor sudah ada warna kuning dan merah, apalagi magenta, dan saat dilihat secara visual awannya berwarna putih mengkilap dan solid bak tembok, mending cepet-cepet menghindar sebelum berabe.

Sampai di sini nggak terlalu bingung, kan? Penjelasan mengenai awan cukup sampai di sini ya, kita kembali lagi ke cerita terbang gue hari ini.

Nah, siang tadi, dalam perjalanan gue pulang ke Surabaya dari Kuala Lumpur, ada suatu area di atas Laut Jawa yang tertutup dengan awan. Awan itu sangat-sangat besar dan panjang membentang dari kiri ke kanan. Ibarat sedang main galasin dengan awan, pesawat gue harus menghindar dari hadangan awan-awan jahat itu untuk bisa menang, dan menang di sini adalah sampai tujuan dengan selamat sentosa (mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu kemerdekaan negara Indonesia, eh ini mah Pembukaan UUD 1945).

Jangan dekat-dekat, awannya "galak".

Sayangnya, ada beberapa kapten yang rela menerobos gumpalan-gumpalan awan itu demi sampai ke tujuan lebih cepat. Kalau gue dipasangkan dengan kapten bermental seperti itu, selain memberi saran untuk menghindari awan bagaimanapun caranya, gue akan tegang sepanjang perjalanan menembus awan, dengan keringat bercucuran (padahal di cockpit itu dingin, lho), kedua tangan berpegang pada dashboard, sambil menjeritkan doa dalam hati, "TUHAN YESUS PIMPIN.".

Untungnya, partner terbang gue hari ini cukup sehati dengan gue. Kami berdua sama-sama berpikiran untuk menghindari awan. Alhasil, penerbangan terakhir gue siang tadi berjalan dengan lancar. Hati tenang, perut kenyang, tidur pun tenang.

Saturday, October 13, 2018

TimTam Galore

Nona just got back from her holiday in Australia and she brought me three packs of TimTams in two different flavors, eeeppp! Despite the fact that I'm not TimTam's number one fan, I was nonetheless still excited to try out new and exciting flavors of munchies I've never tried before. 


These are special editions TimTams, you see. The flavors created was inpired from Gelato Messina, which is Australia's staple of gelato in which they produce more than 40 unique flavors of the Italian ice cream, and what I got from Nona was Honeycomb and Turkish Delight flavored. Not just the flavor, the TimTam biscuit itself was made to resemble Gelato Messina's gelato, so I had to chill them out in the freezer to bring them to their optimum state and flavor. Even the packaging was rather special as it changed its' color at low temperature - the printed words "Chill Me!" in white changed to sky blue with prints of snowflakes on it, how cool is that? 



The presentation of the chocolate covered biscuits was simple and unappealing as some of them were already melted from the rising temperature in Bekasi. I sliced each flavored biscuits into half and found the treasure that lied within. 

I first tried the Honeycomb flavored TimTam. The fillings had this mocha color, making it seemed like a tiramisu flavored instead of honeycomb. There was no bubble-like texture in the fillings mimicking a honeycomb, it was just plain smooth cream. To be honest, it looked rather dull, but then I took a bite and my mouth bursted with the sweetness of honey. 


The chocolate coating was already sweet, making a great combination with the chocolate biscuits that had a hint of bitter dark chocolate here and there. It already screamed, "DIABETES ALERT!", then there's the honey-flavored fillings that add an extra sweetness to your tastebud. It tasted very similar to Cadburry's Crunchie bar, but without the honeycomb toffee texture. I'm giving this flavor an 8 out of 10 because I'm a sucker for delicious sweets.

Then, it was time for me to try the other flavor, the Turkish Delight. Very unique choice of flavor, don't you think? I was skeptical on how they're going to implant the texture of a Turkish Delight into a chocolate biscuit sandwich without ruining the originality of both snacks but, then again, I took a bite.



The chocolate biscuit was sandwiching a pink cream that tasted like milky strawberry milkshake, and in the middle of that pink cream (which was frozen because I kept my TimTam in the freezer overnight) was a sweet strawberry-davored hard toffee-like transparent gummy in the color red. It's the Turkish Delight, I thought to myself, they owned it. The Turkish Delight had the gummy texture like how Turkish Delight supposed to have, and it tasted amazing too combined with the whole chocolaty goodness. Weird flavor combo, but it worked out just fine. I was blown away.


Both flavors tasted amazing, and if I had to choose which flavor is my favorite between these two, it would be the honeycomb one. Although the flavor combination can be pretty awesome, I'm just not that into chocolate and strawberry tangled with each other. Not Godiva's chocolate coated strawberries, though! They're just to die for. 

Tastyfy Your Tastebud

Akhir-akhir ini banyak gue lihat orang-orang di dalam hidup gue yang sedang meniti usahanya sendiri di dalam dunia kuliner, salah satunya adalah saudara gue. Biasa dipanggil Ruru, dia adalah sepupu gue dari keluarga Bapak. Usaha yang tengah dia kembangkan berspesialisasi di cheesecake. Sudah banyak pesanan yang dia ambil dan ulasan mengenai cheesecake-nya pun bertebaran di akun Instagramnya. Penasaran, gue memutuskan untuk memesan satu dari masing-masing produk yang dijual, yaitu Oreo Cheesecake dan Regal Cheesecake. 



Tekstur dari cheesecake-nya sendiri nggak seperti tekstur cheesecake pada umumnya, malah lebih mirip bubur sum-sum dengan kepadatan agar-agar. Nggak lembut seperti mousse, nggak seperti tekstur kue bolu yang empuk tapi tetap nikmat untuk digigit, dan nggak seperti tekstur krim keju yang biasa kita temuin di kue-kue hasil garapan the Harvest. 

Rasanya lebih ke arah gurih, hanya ada sedikit banget rasa manisnya, dan ada kemiripan rasa dengan bagian putih dari Kue Talam. Nggak terasa kejunya, padahal judulnya "cheesecake", dan malah lebih terasa seperti tepung. "Kayak pake tepung hun kwe," kata Ibu di suapan pertamanya. Taburan remah-remah Oreo dan Regal di atas cheesecake-nya adalah satu-satunya yang bisa gue nikmati, meskipun kuantitasnya kurang banyak kalau dibandingkan dengan cheesecake-nya sendiri. 



Sejujurnya, gue kecewa. Kalau judulnya "cheesecake-flavored pudding", gue masih bisa menerima dan nggak akan sekecewa sekarang. Sayangnya, dari awal gue udah berekspektasi bahwa kudapan yang dibuat oleh saudara gue ini adalah cheesecake, tapi yang gue dapatkan adalah bubur sum-sum dengan taburan remah-remah Oreo di atasnya. Realita nggak sesuai dengan ekspektasi. Di lain sisi, kuantitas dan ukurannya cukup manusiawi untuk dihargakan Rp45.000,00, tapi tidak untuk soal rasa. 



Tapi, ya, yang namanya lidah orang, kan, berbeda satu sama lain, pastinya apa yang terasa di lidah gue berbeda dengan apa yang terasa di lidah kalian. Kalian harus coba dulu sendiri untuk bisa menyanggah ulasan gue mengenai cheesecake-nya Tastyfy. 


Kalau kalian mau pesan, kalian bisa kirim pesan melalui Whatsapp di 081294131777, atau kirim DM ke Instagram saudara gue, yaitu @ruruchy. Cheesecake-nya dibuat berdasarkan sistem pre-order yang secara konstan diumumkan di Insta-story saudara gue. Pesanan bisa diantarkan ke tempat tinggal kalian (untuk yang berdomisili di daerah Bintaro dan sekitarnya), atau ke tempat lain yang sudah disetujui bersama.


My First Scotch Eggs

Nowadays, I feel the need to cook at least once every one week, so that I won’t go nuts. One time, I ran out of gas and couldn’t buy it anywhere because the manufacturer happens to stop producing the gas, I didn’t cook anything for more than a week my fingers were all fidgety. Thankfully, I came home eventually and immediately cook the moment I stepped into the house. It had not even been 8 o’clock in the morning and my hands were all dirty from the flour and egg wash.

For that one week of not being in the kitchen, I was craving for this England-based dish that the locals consume regularly at a pub. It goes by the name Scotch Egg, which is basically deep-fried meat-coated boiled egg. It may sounds simple and unappealing, but still delicious nonetheless. 


Nothing can go wrong in making this dish, except for the egg part. I was aiming for a firm egg white with runny yolk, and I kept failing until my last attempt. I boiled my first batch of eggs for less than five minutes and they turned out runny as hell. The second one, I boiled them too hard both egg white and yolk turned solid. I didn’t go for the third attempt because I almost ran out of eggs. 

After I was done with the eggs, it was time for the fun part. I powdered the egg with some flour, enveloped the whole thing with minced beef that I mixed with some chopped onions and diced carrots, then I bathe it with some egg mixture, and finally coated it with a generous amount of bread crumbs (or, like my Mom prefer to call it, panko flour). Last, but not least, I fried the beautiful babies until it turned golden brown and slightly burnt.


To be honest, the whole dish was very dry. The only thing that was juicy was the meat, but it didn’t splash when I take a bite. The yolk, like I said before, was very solid it didn’t turn out to be as enjoyable as I thought it would be. Very savory, slightly sweet from the sautéed onion that I put into the meat mixture, and the texture was quite nice. I managed to make a crispy shell that didn’t easily crumble by a soft grab, which is a good thing. My first attempt at making Scotch Eggs was not that terrible to say the least. 


I had some leftover minced meat that I made into small fried beef balls. They were nice, savory and sweet at the same time, and much juicier compared to the Scotch Egg itself because it only consisted of minced meat after all. 

The aftermath was very messy, but my urge to cook was satisfied and I had fun making the dish. I also got this sense of accomplishment when I succeed, which added an extra handful of joy to myself that served as an extra boost to help me survive through out the day. 


The things you’d do to keep you sane, huh?