Wednesday, May 9, 2018

Happiness comes instantly. 


What needs effort is to stay constantly happy. 


Some days, I need to work extra hard in maintaining the slightest joy inside me.


Failure is an old friend, though. 


But, I got up, not wanting to give up. 


Because, after all this time, I finally got what I've been wanting for the past year.


Which is, to live.




To love.


To breathe.


To fly.


To be free. 


To be the master of my own mind and my own body.


And not letting anyone be the pilot of my own aircraft.


But, still, it takes a lot to stay constantly happy.


I'm working on it. 

Monday, May 7, 2018

Kopi, Pak Eko, dan Mas Gala

Hari kedua gue di Surabaya, gue berkenalan dengan Mas Gala dan Pak Eko. Nggak direncanakan, tapi mungkin memang sudah ditulis jalannya seperti itu. Niat awal gue adalah cuma mau mampir sebentar ke tempat nyuci foto, yang baru gue temuin setelah satu jam sibuk nge-scroll website sana-sini dengan kata kunci “tempat nyuci film Surabaya”, bernama Master Foto. Ternyata proses penyucian film butuh beberapa jam karena, “Kebetulan hari ini lagi rame,” kata Mbaknya. Rencananya, untuk membunuh waktu, gue mau jalan-jalan seputar Monumen Pahlawan dan memburu foto-foto, tapi akhirnya gue mengurungkan niat karena saat itu baru pukul 1 siang dan matahari Surabaya serasa satu jengkal dari kepala gue. Meskipun gue pakai manset, tetap saja ogah panas-panasan, yang ada gue pingsan karena dehidrasi dan kelaparan. 


Dari Master Foto belok kiri ada Kantor Pos. Gue mampir sebentar dan menulis kartu pos yang gue kirimkan untuk Ibu di rumah. Setelah urusan di Kantor Pos beres, gue keluar dan belok kanan melewati Master Foto, jalan terus sekitar dua menit, dan gue menemukan kedai kopi kecil di sebelah kanan yang kelihatannya seperti bengkel. Dari awal gue menelusuri jalan, saat masih di Go-Jek menuju Master Foto, gue sudah melihat kedai ini dan sempat terbesit di pikiran untuk mampir. Jadilah gue batal ke Monumen Pahlawan dan beralih ke Newborn: Coffee & Friends. 

Awalnya pengap dan gerah meskipun AC sudah menyala, tapi lama-kelamaan adem juga, tuh. Mungkin karena kedai Newborn ini agak mungil dan dikelilingi pintu kaca, alhasil sinar mataharinya terperangkap di dalam bagai efek rumah kaca dan menghasilkan hawa panas berlebih di dalamnya. Tapi, bisa jadi juga guenya sok ide pakai bawa-bawa efek rumah kaca, padahal sebenarnya cuma panas saja. 

Menunya sangat lengkap, mulai dari jenis kopi, cara penyeduhan, minuman lain dari teh, hot chocolate, sampai mocktail, belum lagi pilihan makanannya yang juga bermacam-macam, dari nasi sampai burito. Yang membuat gue takjub adalah harganya. V60 CUMA RP15.000,00! Jangan tertipu dengan harga, ya. Gue tau istilah, “Ada harga, ada rasa”, tapi di Newborn harga nggak menentukan rasa. 


“Mas, saya mau V60, dong,” ucap gue. Saat itu gue belum berkenalan dengan Mas Gala. “Kopinya mau yang mana, Mbak,” jawabnya. Saking banyaknya pilihan kopi single origin, gue memutuskan untuk menyerahkan pilihan kopi ke Mas Gala. “Mbak maunya yang gimana, kuat atau ringan,” tanyanya lagi. “Yang ringan aja, Mas. Mas yang pilihin aja, ya.”


Gue menunggu cukup lama sementara Mas Gala beraksi dengan biji kopi dan mesin-mesin kopinya yang gue masih belum kenal yang mana namanya apa. Akhirnya jadi lah gue jepret sana-sini. Kita bahas kedai kopinya sendiri dulu, ya. 

Newborn ini tempatnya, seperti yang gue bilang tadi, cukup kecil. ACnya hanya satu, sementara pintu kacanya cukup lebar, jadi untuk tempatnya sendiri bisa terasa sejuk itu harus agak sabar. Dinding dalamnya dihiasi lukisan-lukisan warna-warni yang cukup estetik untuk para pengunjungnya foto dan kemudian dipamerkan di Instagram. Banyak juga pajangan foto-foto quotes yang dipigurakan terpaku di tembok. Hanya ada beberapa meja dan kursi sofa yang empuk. Meskipun tidak ada tempat nongkrong di luar, mungkin karena di luarpun langsung trotoar dan bisa mengganggu jalannya warga sekitar, ternyata di dalam diperbolehkan untuk merokok. Hanya saja, ACnya harus dimatikan dan diganti dengan kipas angin. 



Nah, sudah perkenalan singkat dengan tempatnya itu sendiri, sekarang kita kembali lagi ke kopinya. Mas Gala membawakan kopi yang diseduh secara manual itu ke meja gue. Penyajiannya sederhana, yaitu dengan gelas kaca dan tutupan gelas kaca yang memberikan kesan jadul. Gue cicipi kopi yang gue pesan, saat itu belum tau biji kopi apa yang Mas Gala piihkan untuk gue. Tasting note yang gue rasakan adalah sedikit rasa pahit, tingkat keasaman sedang, cukup ringan, ada sedikit aroma dan rasa kacang (biasanya sih bilangnya “nutty flavor” gitu), dan rasanya agak tertinggal di pangkal lidah setelah diteguk habis. Gue pribadi nggak terlalu suka kopi yang asam, lebih memilih yang rasa pahitnya dominan, tapi gue nggak bilang kopi yang gue pesan ini nggak enak. 


Tengah gue sibuk dengan kopi bikinan Mas Gala, datanglah seorang pria yang sepertinya paruh baya. Gue pikir pelanggan juga seperti gue, ternyata dia adalah yang empunya kedai kopi Newborn ini. Namanya Pak Eko. Gue mendengar mereka berbincang kecil entah mengenai apa. Gue pun tidak memperdulikan karena gue sedang fokus berkutat dengan instastory-nya Anya Geraldine. Tiba-tiba, Pak Eko menghampiri meja gue sambil menyuguhkan dua gelas, satu berisi kopi, satunya lagi berisi tumpukan es. Nah lho, ada apa, nih?

“Ini speciality-nya kita,” ucap Pak Eko, “mbak cobain, deh. Rasanya mungkin akan bikin Mbak kaget.” Wah, wah, wah. Tambah bingung. “Tadi saya dibilangin, Mbak nyarinya kopi yang light. Kalau Mbak nyarinya yang light mungkin Mbak bakal suka yang ini, soalnya rasanya nggak kayak ngopi,” tambahnya. Asli, gue masih bingung, tapi gue menuruti apa ucapan Pak Eko dan gue cicipi kopi racikan yang beliau bikin. 

Sruput~

Ini teh, apa kopi, pikir gue. Rasanya seperti buah-buahan, gue langsung teringat dengan teh Fruitea. Ringan banget dan nggak terasa seperti gue ngopi karena rasanya yang nggak pahit dan asamnya yang nggak bikin mual. Ada, rasa asam itu ada dan bisa dibilang dominan, tapi rasa buah-buahannya itu yang membuat gue terpana. “Ini kok bisa begini, Mas,” ucap gue. Pak Eko pun tersenyum. 

Kami pun berbincang-bincang selama berjam-jam. Pak Eko ini ternyata adalah seseorang yang berkutat di bidang farmasi, tapi adalah seorang pecinta kopi. Bukan pecinta kopi yang sok-sokan mau mengikuti trend, tapi beliau mempelajari kopi dari hati. “Biji kopinya kemarin saya nemuin pas lagi nyari-nyari. Saya cobain, kok rasanya fruity, dan nggak berubah pas udah dingin,” ucapnya, “saya langsung ambil. Niatnya mau dibikin house specialty. Kayaknya sih cocok, ya.” Semangat beliau berkobar-kobar saat membicarakan kopi. Dan, anehnya, gue pun ikut bersemangat! Padahal gue nggak suka kalau waktu pribadi gue diusik oleh orang luar, tapi dengan Pak Eko gue belajar hal-hal baru tentang kopi dan gue jadi merasa terinspirasi. 

“Kopi ini kalau dingin juga sama rasanya. Coba Mbaknya campur ke es batu, deh,” ucapnya lagi. Gue turuti apa kata Pak Eko dan gue cicipi kopi tersebut. Kaget, asli. Rasanya nggak kayak ngopi, masih kayak ngeteh, dan rasa buah-buahannya makin keluar saat tercampur dengan es batu. “Mas, kok enak,” ucap gue, “makin fruity , ya!”. Pak Eko tersenyum lagi dan perbincangan tentang kopi pun berlanjut.

Gue kagum dengan Pak Eko. Beliau mengerti kopi, tapi nggak sombong. Gue melihat beliau seperti Pak Seno dari novel karya Dewi Lestari. Caranya Pak Eko membicarakan kopi itu seakan-akan kopi itu mempunyai jiwa dan sifatnya pun berbeda-beda tergantung biji kopinya, tergantung cara penyeduhannya, tergantung cara menjemur biji kopinya. 

“Saya ada lagi. Kemarin sempat nyobain nge-infuse biji kopinya pakai wine sama sparkling soda. Sebentar, ya.” Pak Eko beranjak ke belakang bar dan mengambil sesuatu dari kulkas. Tingkahnya seperti anak kecil yang ingin menunjukkan karya gambarnya ke orang tuanya. Lucu banget. Gue senang melihat beliau semangat seperti itu, padahal baru kenal selang beberapa jam yang lalu. 

“Ini cobain,” katanya sambil menyodorkan gue gelas seukuran shot glass yang berisikan cairan hitam pekat seperti OBH. Gue ambung di bibir gelas dan spontan mengatakan, “Baunya kayak wine, Mas!”. Aromanya benar-benar seperti wine: manis, fruity, dan nyegrak. 

Sruput~

INI WINE. ASLI, pikir gue dalam hati. Rasanya benar-benar seperti wine, manis, fruity, agak chocolaty, agak berat tapi rasanya nggak tertinggal di pangkal lidah ataupun tenggorokan. Dan, yang membuat gue terkagum-kagum dengan kopi racikan Pak Eko ini adalah rasa panas yang gue tunggu-tunggu namun nggak kunjung datang. Ngerti kan, rasa panas di tenggorokan setelah meneguk anggur itu bagaimana? Nah, ini nggak ada! Gue sebal, karena kopi ini rasanya seperti wine. Tapi, ini kopi, bukan wine! Tapi rasanya kayak wine, lalu nggak ada sensasi panasnya! Tapi agak nyegrak, kayak wine! Tapi, ini kopi! Gue adu debat dengan pikiran gue sendiri. 


Benar-benar gue takjub dengan segala suguhan Pak Eko. Beliau memang hebat. Kedai kopi ini hebat karena ada Pak Eko, dan Mas Gala juga tentunya. 

Kami lanjut berbincang-bincang sampai nggak sadar waktu. Pembicaraan kami terhenti karena Pak Eko mau pergi ke suatu tempat untuk mengambil hpnya yang tertinggal. Gue berterima kasih kepada beliau sebelum beliau pergi dan memuji kopi bikinannya. Seperti biasa, Pak Eko tersenyum lagi.

Setelah Pak Eko pergi, gue berbincang-bincang dengan Mas Gala. Di sini lah baru gue mengetahui nama mereka berdua. 

Mas Gala itu adalah salah satu crew di Newborn: Coffee & Friends yang baru mulai bekerja minggu lalu. “Pengetahuan saya tentang kopi 0,” katanya, “saya mulai dari 0, diajarin Pak Eko. Jadi sekarang masih belajar, tapi mulai ngerti sedikit-sedikit.” Penasaran, gue tanya, “Mas Gala udah belajar kopi dari kapan?”. “Minggu lalu, Mbak Kinan,” balasnya. Gue kagum. Baru belajar satu minggu dan sudah bisa menguasai garis besar penyeduhan kopi secara manual dan tasting note kopi-kopi yang ada di kedai itu, sih, menurut gue adalah suatu prestasi yang hebat. 

“Mbak Kinan saya lihat juga kayaknya ngerti kopi, ya,” ucapnya. Sejujurnya, gue pun baru mulai belajar mengenai kopi dan rasa-rasanya yang bermacam-macam. Gue nggak bisa membuat kopi kecuali kopi tubruk, kopi sachet, dan drip coffee sachet yang biasa gue beli di Otten, tapi gue mulai bisa merasakan tasting note yang kerap dibicarakan para pecinta kopi. “Belum ngerti banyak, Mas Gala, masih belajar juga ini hehehe.”

Kemudian Mas Gala menawarkan apabila gue tertarik untuk belajar lebih dalam lagi mengenai kopi, gue diperbolehkan datang ke kedai dan belajar dari Pak Eko. “Saya juga dulu kan 0, Mbak, ilmunya. Terus diajarin sama Pak Eko, jadinya ngerti,” tambahnya. Gue lansung bersemangat dan berjanji akan mampir lagi di lain kesempatan. 

Saat itu sudah pukul 4 lewat 30 menit. Gue berpamitan dengan Mas Gala untuk mengambil hasil cucian film yang gue titipkan di Master Foto. 

Akhir cerita, izinkanlah gue berbagi ilmu yang gue dapat dari Pak Eko, bahwa kopi itu rasanya akan beda-beda untuk setiap orang karena setiap orangpun memiliki lidah dan indra perasa yang berbeda-beda. Kalau kalian mau belajar mengenai kopi, jangan malu kalau kalian menyium aroma ikan asin, atau aroma udang, seperti gue tadi, karena itu wajar. Buat gue, aroma itu lah yang gue dapat dari menghirup aroma biji kopi dari Palu dan biji kopi Sunda. Mungkin di hidung kalian akan tercium beda baunya. Begitu juga dengan tasting note-nya. Tapi, bukan berarti kopi itu nggak enak. Kalau kalian nggak suka rasanya, nggak apa-apa, tapi sekali lagi bukan berarti kopi itu nggak enak. Mulai belajar untuk mengenali rasa kopi. Mau kopi itu pahit, asam, seperti buah-buahan, seperti kacang, terimalah karena setiap kopi mempunyai ceritanya masing-masing. 


Newborn: Coffee & Friends
Jl. Arjuno, No. 144
Sawahan, Surabaya
Jawa Timur 60251

Opening Hours:
Monday - Thursday: 12 PM - 12 AM
Friday - Saturday: 12 PM - 1 AM
Sunday: 7 PM - 12 AM

Tuesday, April 24, 2018

Terbang Bersama Mas Dede

Di Medan, ada satu pramugara yang baru saja gue kenal beberapa minggu belakang ini. Namanya Mas Dede. Beliau doyan banget masak. Setiap gue terbang bareng Mas Dede, pasti beliau membawa perbekalan yang selalu dia bagi untuk cockpit crew. Seperti contohnya hari ini, gue dibagi es krim dan teri kacang bikinannya. Rezeki memang nggak kemana, ya.






















Es Krim Jagung ini Mas Dede buat dengan bahan dasar jagung dan susu. Gue nggak ngerti gimana caranya itu jagung bisa bertekstur seperti foto yang gue lampirkan di atas, dan rasanya enak banget! Terus, di dalam serutan es krimnya, ada juga butir-butir jagung utuh yang manis dan nikmat banget untuk dikunyah. Manisnya nggak bikin mual dan rasanya segar untuk bisa menyantap es krim di dalam pesawat saat lagi terik-teriknya matahri. Berkat beliau, gue jadi bertekad untuk membuat es krim tanpa karbohidrat dan gula yang bisa gue santap tanpa dosa dalam program diet gue.

Lalu, setelah Es Krim Jagung, gue juga dibagi satu gelas Sambal Teri yang akhirnya menjadi menu makan siang gue karena gue nggak membawa bekal apa-apa selain buah potong gratis dari hotel dan satu buah apel. Rasanya pedas dan manis, tapi lebih dominan manisnya daripada pedasnya. Sepertinya, sih, Mas Dede nggak memakai gula jawa karena manisnya agak beda dengan manis gula jawa. Faktanya begitu, atau guenya aja yang sotoy.

Lepas dari hari ini, beberapa posting yang lalu di Medan, gue dan Kapten Afner pun dibagi satu mangkok penuh Keripik Opak. Tentu saja buatan tangan Mas Dede. Kali itu, gue yang mengambil sendiri dari kotak penyimpanan makanan teman-teman flight attendant di cabin bagian belakang, dan gue kaget pas gue melihat bahwa ternyata Mas Dede membawa satu plastik besar Keripik Opak tersebut. Asli, gue yang awalnya baru ngeliat doang, tanpa sadar, udah ngumpul air liurnya di pangkal lidah.

Keripik Opaknya renyah banget dan manis gurih rasanya. Manisnya selalu nggak membuat gue, ataupun kapten gue, mual. Pedasnya juga bikin nagih dan, tanpa sadar, gue dan kapten nggak berhenti mencomot satu demi satu sampai tiba-tiba, "Yah, Kep, abis!".


Monday, April 23, 2018

Medan, Lagi.

Masih seputar Medan. Mungkin kalau orang Medan yang ke Bekasi, mereka juga akan takjub kali, ya, mengenai betapa banyaknya makanan yang mereka belum pernah coba. Ya, sama, seperti gue sekarang ini. Masih getol-getolnya pingin nyobain makanan ini itu di Medan. Ini aja belum di kota Medannya langsung, masih di sekitar Kuala Namu. Apa jadinya kalau gue ketemu Ucok Durian dan kawan-kawannya?

Sering kali gue males banget jalan dan turun ke bawah untuk menyari makanan. Baik itu untuk makan siang, atau makan malam, ujung-ujungnya pasti gue bergantung pada menu makanan yang ada di meja kamar gue dan sambungan telefon ke room service. Dengan sigapnya gue memencet angka 2, atau kalau sedang sibuk dan nggak bisa dihubungi memencet kombinasi angka 8005, dan memesan makanan yang mau gue santap.

Makanan andalan gue setiap gue memesan room service adalah Capcay Seafood dan Tahu Gejrot. Kali ini, gue mau menyoba variasi lain. Jatuhlah pilihan pada Ayam Cabe Ijo dan Tempe Mendoan.


Selang satu jam setelah gue menelfon layanan kamar, datanglah sepiring ayam berbalut sambal berwarna hijau. Ayamnya potongan dada, sengaja gue pesan seperti itu, karena gue hanya doyan bagian tersebut. Lengkap dengan beberapa potong tomat dan timun, Ayam Cabai Hijau gue dihias dengan sedikit taburan bawang goreng diatasnya. Ayamnya digoreng kering sampai luarnya agak keras dan alot saat dikunyah, tapi lebih baik begitu daripada setengah matang dan masih ada sisa-sisa darahnya. Sambalnya nggak terlalu pedas, masih lebih pedas sambal di rumah makan Padang sebelah komplek gue. Agak sedikit manis, tapi tetap gurih. 

Dan Tempe Mendoannya ternyata hanyalah tempe goreng tepung biasa, bukan Tempe Mendoan yang lebar nan basah yang biasa gue beli di deket komplek. Tempenya, meskipun empuk, tapi kurang bisa dinikmati karena rasanya yang hambar nyerepet pahit. Tepungnya saja yang agak gurih, tapi selebihnya hambar. 


Berhubung gue sedang diet, gue menghindari makanan-makanan yang mengandung karbohidrat dan gula, tapi ndilalah waktu itu gue dikasih terbang dengan kapten yang perhatian, dibelikanlah gue sebungkus Mie Aceh oleh beliau. Waktu itu beliau dan keluarganya menyempatkan untuk jalan-jalan ke kota, sementara gue mendekam di kamar bersama laptop. Tiba-tiba ada suara ketukan di pintu, dan pas gue intip dari door viewer ada sesosok yang melengos ke kiri dan menghilang. Gue buka pintunya dan langsung bunyi "kresek-kresek". Ternyata makanan gue disangkutin di pintu kamar. Gue tengok ke kiri dan masih ada sosok tersebut yang ternyata adalah anak laki-laki kapten gue yang sedang berlari kecil menuju kamarnya. Langsung gue teriak, "Kapten, terima kasih!". Lalu ada kepala nyembul dari pintu kedua setelah kamar gue, "Yo, sama-sama!".

Nggak masalah diet gue hancur malam itu karena Mie Acehnya enak banget! Nggak Mie Acehnya bikinan siapa, pokoknya judulnya Mie Aceh dan dibeli di Kota Medan. Mienya gemuk-gemuk dan empuk, berwarna kuning langsat, ditaburi irisan bawang merah, lauk-pauk yang kelihatannya seperti otak-otak dan telur orak-arik, sepotong jeruk nipis untuk diperas diatasnya, dan beberapa potong timun. Serius, mienya seenak itu! Rasanya gurih, belum pernah gue mencicipi rasa yang seperti ini sebelumnya. Kesedapan Mie Aceh tersebut meningkat 20% ketika gue tambahkan dengan perasan jeruk nipis, langsung terasa kecutnya, tapi segar.

Yang membuat gue jatuh cinta adalah potongan bawang merahnya yang manis dan agak nyelekit kita dipadukan dengan mie gurih manis yang empuk itu. Ditambah lagi potongan daging yang menjadi pelengkap makan malam gue tergolong empuk dan nggak terlalu alot, rasanya pun gurih manis. Yang niatnya hanya makan setengah porsi buyar seketika.

Pernah juga, keesokan siang dari malam setelah gue menyantap Mie Aceh, gue iseng jalan-jalan di sekitar hotel untuk mencari makanan yang belum pernah gue coba. Hari itu tingkat mager gue dibawah rata-rata, jadi niat untuk berpetualangnya tinggi.

Ada cafe di sebelah hotel tempat gue menginap yang kelihatannya cukup cantik dan manusiawi untuk nongkrong, namanya L.Co. Gue masuk dan memilah makanan yang ada di daftar menunya, dan memutuskan untuk membawa pulang satu porsi Crispy Salad. Gue nggak kepikiran yang aneh-aneh karena dari namanya aja udah "salad", paling yang crispy cuma taburan crouton, atau mungkin semacam cheese sticks, gitu. Selang beberapa menit kemudian, salah satu staff restorannya memanggil gue dan menyerahnya dua bungkusan plastik berisikan styrofoam. "Maaf dibagi jadi dua ya, Kak, nggak cukup soalnya," kata si Kakaknya. Dalam hati gue bersorak, "Hore, nggak usah beli makan malam lagi!". Ternyata, isinya seperti ini..

Mau marah, tapi kok menggiurkan?

Segini banyaknya cuma Rp25.000,00? Nggak salah, tuh?

Setelah menelfon Ibu dan Bapak gue dan mengadu tentang makanan yang gue beli, akhirnya gue menemukan arti dari Crispy Salad. Mungkin yang mereka maksud adalah Taco Salad kali, ya, berhubung bentukannya seperti ini. Di dalamnya memang ada salad, tapi pakai acara ditumpuk potongan ayam balut tepung yang digoreng kering, lumuran saus mayonnaise yang ternyata kalorinya seember, taburan kacang wijen yang kurang kerasa dan cuma nyelip diantara gigi, dibungkus dengan adonan goreng yang bersimbah minyak. Di sini gue antara mau misuh-misuh, tapi di lain sisi ada bersyukurnya karena makanan ini kelihatan banget bakalan enak.

Bener, tuh, enak banget. Memang, ya, yang nggak sehat itu terjamin enaknya. Meskipun adonan gorengnya agak terasa pahit, mungkin karena minyak yang dipakai untuk goreng sudah bekas goreng beberapa kali dan belum diganti, tapi enaknya nggak bohong. Berminyak, berlemak, dan nikmat. Potongan ayamnya gemuk-gemuk dan sangat renyah, apalagi dipadukan dengan saus mayonnaise manis dan potongan salad segar yang ada di bawahnya. Sesungguhnya porsi saladnya sedikit banget, ibarat daging sapi di tukang kebab pinggir jalan yang justru lebih banyak sayur dan sausnya, tapi nggak apa-apa lah.

Kurang dari 15 menit, gue berhasil melahap satu porsi. Masih ada satu porsi lagi, tapi untungnya gue masih waras untuk nggak ngelanjutin ronde kedua. Bingung, dibuang mubazir, dimakan jadi lemak. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar gue, "Room Service! Mau dibersihkan kamarnya, Bu?". Gue buka pintu dan menyerahkan kresek porsi kedua kepada si Abang. "Nggak usah, Bang, terima kasih, ya. Ini ada cemilan buat Abang," kata gue. Lalu si Abangnya senyum-senyum.

Sunday, April 22, 2018

Reward Yourself and Say, "You did good, self!"

During my previous shift at Medan, I managed to do well on my diet I decided to reward myself with a slice of Chicago Cheesecake from the Coffee Bean & Tea Leaf on my arrival to Jakarta. A slice of this beautiful baby costed me Rp45.000,00. A bit pricey, but I thought to myself, "You deserve this!".

My choice was between the Oreo Cheesecake or this Chicago Cheesecake. I asked recommendation from the barista and he told me to go with the Chicago, so I did. "The Oreo Cheesecake is, well, you know how it would tasted already, right? Sweet, cheesy, and full of Oreo goodness. But, the Chicago Cheesecake has some lemon zest in it, so it'll be a bit refreshing for the taste bud," he said. I took a spoonful of the cake and it lived up to the barista's reviews.

The cake is a bit heavy, sweet but not too sweet, and the citrus flavor managed to stand its' ground as a neutralizer. It took me a while to finish it, not because it was sickening, but because it tasted so good I don't want it to be over. Don't expect a fluffy cake because this cake is very compact. Loving the biscuit crumble on the bottom part of the cake so much I hoped there was more!

Oh, and the fact that we can smoke at this particular cafe adds some extra point on why you should stop by during your transit at Jakarta. You do have to buy something if you only want to smoke inside the cafe. My suggestion is: just go for the cake because the water costs you the same amount of money.



The Coffee Bean & Tea Leaf
Terminal 2 Keberangkatan (Departure Terminal)
Bandara Soekarno Hatta
Tangerang, Banten 19120