Sunday, July 9, 2017

Saturday, July 1, 2017

Es Kopi Susu Tetangga

Murah. Hits. Enak. Ini adalah tiga deskripsi akurat yang bisa gue bagi dengan kalian mengenai Kopi Tuku. Terletak di pinggiran Jalan Cipete, Kopi Tuku cabang Fatmawati ini ibarat warteg bagi para pecinta kopi. Kedainya mungil dan beneran nyempil diantara bangunan-bangunan di kanan kirinya, tempat duduk untuk kita ngaso-ngaso pun nggak ada kecuali bangku sederhana untuk kita tempati sembari menunggu pesanan kita. Menunya nggak begitu banyak, jadi kita nggak pusing-pusing amat untuk menentukan pilihan. Sistem pesan dan pembayarannya nggak begitu lama, mungkin didukung juga dari antrian yang pendek dan kesigapan cashier untuk melakukan transaksi jual beli.

Dari empat pilihan kopi, yang sepertinya menjadi signature drink dari Toko Kopi Tuku itu sendiri, pilihan gue jatuh kepada Es Kopi Susu Tetangga. Dengan harga Rp18.000,00, gue udah bisa mendapat kebahagiaan yang sama seperti gue memesan Hazelnut Latte di Starbucks yang harganya hampir tiga kali lipat dari harga si Es Kopi Susu Tetangga tersebut. Sekitar 5 menit kemudian, pesanan gue pun jadi. Bener-bener kayak warteg: cepat, murah, dan memuaskan. 


Es Kopi Susu Tetangga adalah sebuah mahakarya yang mengombinasikan campuran iced latte, creamer, dan gula aren. Kopinya pekat banget, bisa kerasa dalam satu sedotan pun. Rasa pahitnya nggak didominasi dengan rasa asam. Manis dari gula arennya sangat cukup untuk membuat rasa kopinya tetap kuat, namun tetap manis. Esnya nggak terlalu banyak, sehingga nggak membuat genangan air diatas permukaan kopi susu itu yang, biasanya, menghancurkan tekstur dan kepekatan minuman tersebut. Asli, gue suka!


Es Kopi Susu 
Jl. Cipete Raya No. 7
Fatmawati, Jakarta

Opening Hours:
Sunday - Friday: 7AM - 10PM 

Saturday, June 17, 2017

Caramel Popcorn McFlurry

Kemarin gue menyempatkan diri untuk drive thru mekdi dan jajan es krim McFlurry dengan sisa-sisa ribuan yang ada di mobil. "Mbak, total harganya jadi berapa, ya, kalau ditambahin pajak," teriak gue ke intercom setelah memesan salah satu varian baru es krim tersebut. "Totalnya jadi Rp14.000,00, Bunda," balasnya. Ah, pas banget gue cuma punya selembar sepuluh ribuan buluk dan seraup gopekan. 

Caramel Popcorn McFlurry namanya, varian McFlurry terbaru keluaran McDonald di mana soft vanilla ice cream-nya dihias dengan taburan popcorn karamel dan (seharusnya) saus karamel. Gue udah mewanti-wanti diri gue untuk nggak berharap terlalu banyak dengan tampilan es krim tersebut karena yang udah-udah pasti beda dengan apa yang diiklankan, tapi gue udah terlanjur berekspektasi tinggi dan akhirnya kecewa.


Sama sekali nggak menarik, hanya es krim yang ditaburi beberapa buah popcorn karamel. Sekian. Saus karamelnya pun nggak ada. Konsumen kecewa. 

Rasanya nggak terlalu istimewa, meskipun memang gue merasa bahwa ada rasa karamel itu sendiri di dalam es krim vanilanya. Mungkin sebagai pengganti saus karamelnya, kali, ya? Popcorn karamelnya juga nggak ada istimewanya. Rasanya, ya, sebagaimana rasa popcorn karamel seharusnya dan, menurut gue, ada sedikit rasa apek yang memberi kesan seperti popcorn karamel yang biasa bisa kita beli di bioskop. 

Lain kali, gue akan jajan McFlurry Oreo aja. 


Wednesday, June 14, 2017

Mie Goreng Pedas Garuk

Akhirnya, cita-cita gue dan Dheo untuk mencicipi mie goreng pedas ala Mie Abang Adek terwujudkan. Setelah beberapa kali hanya kepingin-kepingin doang dan nggak jadi-jadi, akhirnya kemarin kami melepas predikat kami sebagai "Perawan Mie Abang Adek" dengan memesan satu porsi mie goreng dengan tingkat kepedasan nomor tiga, yaitu Mie Goreng Pedas Garuk. Asal kalian tau aja, si Bapak menggunakan 50 buah cabai untuk membuat makanan maut yang satu itu. Serius, 50 buah. Ngeri, kan?


Awalnya, gue mau cari aman saja dengan memesan mie goreng dengan tingkat kepedasan paling rendah. Tapi kemudian, tengah gue memesan ke si Bapak, omongan gue terpotong oleh, "Dih, apaan dah, cemen banget! Aku aja cabenya 50!". Jadi lah gue ikutan memesan satu porsi mie goreng dengan tingkatan pedas nomor tiga, di mana tingkat keduanya si Bapak menggunakan 75 buah cabai dan di tingkat pertamanya menggunakan 100 buah cabai. "Yak, di sebelah sana ada kamera, silahkan lambaikan tangan anda jika tidak kuat!".


Nggak lama kemudian, pesanan kami disajikan. Mie kami berdua sama, hanya hiasannya aja yang beda: gue dengan telur ceplok, sementara Dheo dengan kornet goreng kering. Tampang kedua mie goreng kami tampak sama-sama menyiksa. Baunya pahit. Warnanya jingga terang dengan sedikit merah di sana-sini dari kulit cabainya. Di setiap untaian mie bersembunyi setidaknya beberapa butir biji cabai yang seolah-oleh mengejek gue, "Ah, elu sesuap doang juga nggak bakal tahan, tong.".



Satu suap, gue langsung tumbang. Gue nggak bisa membuat diri gue menyuap satu suap lagi untuk waktu yang lumayan lama karena gue sedang sibuk berperang melawan rasa pahit dan sakit yang ada di mulut gue. Sementara itu, Dheo udah masuk suapan ketiga.

Gue kira pedasnya nggak bakal jauh-jauh dari pedasnya Buldak Bokkum Myeun produksi Samyang, jadi gue pede-pede aja. Eh, ternyata, jauh sejauh jauhnya jauh dari ekspektasi gue. Saking pedasnya itu mie goreng, gue sampai benar-benar nggak ngerasain apapun selain pahit dan sakit! Gue hanya tahan dua suap. Bahkan telur ceploknya pun nggak gue makan. Disaat perut gue mulai panas dan melilit, Dheo masih sibuk dengan suapan-suapan terakhirnya sebelum dia pun ikutan nyerah.


Mie Abang Adek
Bea.Box Container Food Court
Jl. Caman Raya, No. 32
Jatibening, Bekasi

Opening Hours:
Monday - Sunday: 11AM - 1AM

Sunday, June 11, 2017

Team Muffin or Team Burger?

I'm not a big fan of McDonald's selection of breakfast menu other than its' Hotcakes. Sure, I do enjoy its' breakfast muffins, with the sausage patty and Cheddar Cheese sandwiched between the crumble English muffins, but they're just not as good as its' plain Cheeseburger. Do you get me? 


Ayam Penyet Surabaya

Senin kemarin, sepulang dari gue menjalani Psychotest di Garuda City Center, Cengkareng, gue bersama beberapa teman Penerbang 66 mampir dulu ke sebuah tempat makan di daerah M1 untuk berbuka puasa. Seperti ekspektasi gue, tempat makan dengan nama Ayam Penyet Surabaya itu banjir warga yang berlomba-lomba memanggil para pelayan yang kewalahan, untuk memesan menu berbuka mereka. Tanpa pikir panjang, saat Anggita menawarkan untuk memesan, gue langsung tembak Ayam Bakar bagian paha atas dan segelas Es Jeruk untuk Dheo, dan Ayam Kremes bagian dada dan Es Teh Manis untuk diri gue sendiri. 

Gue, Anggita, dan Ambar memutuskan untuk memisahkan diri menempati meja yang tersedia di area luar tempat makan tersebut karena situasi dan kondisi yang memaksa kami untuk tidak bergabung dengan para cowok yang tengah duduk lesehan di area dalam: lipatan lemak. Demi apapun, gue nggak sanggup kalau harus disuruh menahan perut gue untuk tidak ambyar selagi gue lesehan. Jadilah kami menempati salah satu meja yang baru saja ditinggalkan salah seorang konsumen yang makan ayamnya berantakan kayak ayam beneran. 


Nggak lama untuk pesanan kami tiba. Anggita dan Ambar pun memesan Ayam Kremes dengan bagian yang berbeda dengan gue, dua gelas teh manis, dan seporsi Cah Kangkung untuk menemani nasi dan lauk. 

Ayam Kremes kami datang dalam piring rotan beralaskan kertas minyak, yang diisi dengan porsi nasi putih hangat yang cukup, sepotong terong goreng, daun lalapan, tahu goreng, tempe orek, kremes ayam, ayamnya sendiri, dan sambel yang pedas dan nendang banget bawangnya. Cukup meriah untuk makanan seharga Rp24.000,00. 

Gue senang banget dengan ayamnya yang digoreng matang sampai kering. Karena gue bukan pemakan ayam yang bersih, kadang gue risih semisal ayam goreng yang gue makan itu masih basah, atau berminyak, atau dalam kondisi apapun yang membuat ayam tersebut kelihatan nggak kering sampai ke dalam-dalam. Nggak bakal gue bersihin sampai tulang-tulangnya. Tapi, ayam kremes ala Ayam Penyet Surabaya ini berhasil gue makan sampai hampir bersih. 


Selain kremesan ayamnya yang gurih dan agak terlalu asin di lidah gue, sambalnya pun kaya banget akan rasa. Rasa bawangnya nendang banget, belum lagi selipan remahan kemirinya. Dipadukan dengan tumpahan Kecap Bango membuat makan malam gue hari itu makin nikmat. 


Ayam Penyet Surabaya
Jl. Surya Dharma, M1
Tangerang, Banten

Saturday, June 3, 2017

Cerita Hari Ini

Hari ini dimulai ketika hp gue menjeritkan nada dering tanda telfon masuk dari aplikasi LINE. Otomatis, dengan pembawaan gue yang nggak terimaan, gue mengambil hp untuk melihat siapa yang bikin kepala gue pusing pagi-pagi buta begini. "Anggita" begitu tulisannya di layar yang terangnya bikin mata gue serasa mau copot, dan itu belum ada jam 4 pagi. Hampir kesel karena nada deringnya berisik dan mengganggu tidur gue, tapi kemudian gue inget bahwa dua jam sebelumnya gue sengaja ngasih pr ke Anggita untuk bangunin gue jam 4 karena gue ada tes penerimaan pilot Garuda Indonesia hari ini. Oke, nggak jadi marah.

Susah banget kayaknya buat melek jam segitu, padahal biasanya main DOTA sampai matahari terbit pun sanggup. Kemudian gue paksa badan gue untuk beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar untuk memulai pekerjaan rumah lebih pagi daripada biasanya. Nggak sampai lima belas menit dan semuanya sudah beres. Baru saja gue mau rebus air utuk nyeduh teh, ada lagi telfon masuk. Kali ini tulisannya "Ambar", yang kemudian gue sambut dengan, "Halo, Mbar, gue udah bangun." dan dibalas dengan suara parau yang, setangkepnya gue, membuat suara, "Hm-mh!"

Nggak lupa, setelah menjawab telfon dari Ambar, gue mengirim pesan ke salah satu sahabat gue sedari SMP yang pun gue titipin pr untuk bangunin gue jam 4 pagi. "Vel, gue udah bangun, ya," tulis gue di LINE, yang dia balas dengan, "wkwkwkwk". Sampai sekarang, gue nggak tau bunyi dari "wkwkwk" itu seperti apa. Di pikiran gue pasti, "wek wek wek" macem bebek ketawa.

Sarapan gue pagi ini adalah segelas teh hijau panas dan satu bungkus Antangin cair. Tadinya mau nyiapin bekal sembari ngerebus air panas untuk mandi, tapi kemudian ada telfon masuk yang nggak disangka-sangka. "Kamu udah bangun belum," bentak suaranya dari seberang telfon. "Udah bangun, kok, ini aku lagi mau mandi," balas gue dengan nada melas. "Hm, ya udah," katanya lagi sebelum sambungannya terputus. Kaget pagi-pagi udah harus berhadapan dengan nada tinggi, tapi ada senengnya juga dapet kejutan wake-up call dari pacar. Terus, abis itu, lupa mau nyiapin bekal. Padahal Ibu gue udah nyiapin muffin bikinannya, sengaja buat gue makan pagi ini. Seharusnya.. 

Nggak butuh waktu lama untuk gue mandi dan memakai seragam untuk tes hari ini, cukup 20 menit saja. Nggak lama dari selesai gue mandi, pacar gue pun datang menjemput. "Aku udah di depan rumah," katanya di telfon. Belum pernah kayaknya gue buka pager sesemangat, dan setersipu malu, pagi ini. Ya, habisnya, siapa yang nggak bakal excited untuk ketemu pacar lo setelah ditinggal keluar kota selama 40 hari lamanya? Dan karena terbatasnya komunikasi oleh kesibukan masing-masing pula yang membuat tingkat semangat gue makin meletup-letup. Buka pager rumah aja udah kayak lagi ngikutin PO berdarahnya penulis favorit gue, Ika Natassa. 

Berangkat lah kami ke daerah Duri Kosambi, tempat di mana tes penerimaan pilot Garuda Indonesia hari ini dilaksanakan. Singkat cerita, tes hari ini bener-bener bikin otak gue membengkak dua kali lipat ukuran normalnya. Gue pun merasa berat badan gue berkurang drastis saking getolnya nyari arah dan besar kecepatan angin berhembus semisal suatu pesawat dengan heading 120º, TAS 80 Knots, menempuh jarak dari titik A ke titik B yang jauhnya 315Nm dalam waktu 3,5 jam. Kurang greget apa gue? Oh iya, Anggita dan Ambar pun ikut tes hari ini, tapi jadwal tes mereka lebih dulu daripada gue. 

Dheo, yang jadwal tesnya barengan dengan Anggita dan Ambar, tengah sibuk dengan Mobile Legendnya saat gue kembali ke mobil setelah menyelesaikan Aeronautical Test hari ini. "Beb, puyeng," jerit gue. Untuk beberapa saat kemudian, sembari menyetir kembali ke Bekasi, kami membahas soal demi soal yang kami, anggap, jawab dengan benar. Dari Hukum Newton, ke perhitungan Magnetic North dan True North, sampai pembacaan tingkat kepadatan awan dalam oktas pun kami bahas. Dari 100 soal, gue pede dengan 70 soal yang menurut gue gue jawab dengan benar, dan dia pede dengan jumlah yang sama dikurang sepuluh. Tinggal nunggu hasil, deh, bakal lolos ke tahap selanjutnya atau nggak. Wallahu A'lam. 

Sebelum masuk ke komplek perumahan gue, kami mampir ke salah satu cabang PHD di daerah Caman dan memesan Double Box Pizza. Dheo memilih Cheesy Galore Pizza dengan pinggiran Cheesy Bites, sementara gue berpegang teguh dengan pizza andalan gue, Meaty Pizza. Nothing can go wrong with pizza that has meat and cheese on it. Padahal gue pingin yang Hawaiian Pizza, tapi Dheo nggak doyan nanas. 

Baunya harum banget, bener-bener bikin ngiler, gue sampai lupa untuk foto. Tapi, gue juga lagi dalam posisi kelaparan banget karena belum makan apa-apa dari subuh dan malah ngebabat magh gue dengan Coca Cola. Pinter, ya? 

Kami menghabiskan seluruh siang sampai malam kami nggak jauh-jauh dari DOTA, pizza, dan film. Sayangnya, karena laptopnya cuma satu, alhasil gue menyibukkan diri menghias tembok kamar gue dengan lukisan-lukisan random yang terlintas di pikiran gue, sementara pacar gue sibuk gonta-ganti skill untuk ngebunuh hero lawan. Di match pertama, dia pakai Invoker. Kebayang dong rumitnya kayak gimana itu jari buat nge-skill dari Sun Strike, ke Tornado, ke Ghost Walk, dan kemudian diakhiri dengan Chaos Meteor. Sayangnya kalah, tapi nggak apa-apa. Untuk hitungan dia yang baru lepas hiatus, untuk bisa mainin Invoker waras aja udah menakjubkan buat gue. 

Dua pizza ukuran reguler, dengan delapan potongan masing-masing pizzanya, berhasil kami habiskan berdua. Kebayang nggak, sih, betapa rakusnya kami? Belum lagi, karena perut gue masih ngerasa nggak enak, gue babat pula Soto Betawi bikinan Ibu gue yang masih ada sepanci di kulkas. Enak banget, gurih dan kaya akan rasa! Apalagi ditemenin emping dan sambil streaming film the Fate of the Furious. Wuih, sedaaap! 


Thursday, June 1, 2017

Kelunturan Buah Naga

Sekarang gue udah nggak usah susah-susah lagi ke Kuningan hanya demi makan Rolly's Thai Ice Cream karena es krim gulung yang satu ini buka cabang di Summarecon Mall Bekasi, woohoo!

Kemarin gue pakai kombinasi yogurt dengan stroberi, kiwi, dan buah naga merah sebagai campurannya. Nggak biasanya gue bakal milih yogurt ketimbang es krim, tapi siang itu kayaknya seger banget kalau makan yang manis manis kecut.


"Yang mana yang mau dijadiin topping, Kak" tanya Mbaknya. Karena gue lagi males mikir, jadi aja semua buah-buahan yang gue pilih dicampur ke dalam yogurt. Gue selalu senang melihat proses pembuatan es krim gulung ini, apalagi saat topping-nya di bejek-bejek. Pardon my poor choice of words. Dan, seketika, yogurt yang tadinya berwarna putih berubah menjadi warna soft magenta gara-gara kelunturan buah naga merah. 



Rolly's Thai Roll Ice Cream
Summarecon Mall Bekasi
Jl. Ahmad Yani, Bekasi Utara

Opening Hours:
Monday - Sunday: 10AM - 10PM

Mom's Breakfast Buns

It was around 7 in the morning, just as the sun ray peeked through the window, when I accidentally woke up from my slumber. I was planning on having three more hours of sleep, but a deal is a deal: the moment I wake up, I am not going to put myself to sleep again.


My eyes were still half closed, my voice was rough, and I couldn't even walk properly. Mom was surprised by the fact that I woke up THAT early. She is used with having me waking up an hour past mid noon. "Lho, kok tumben jam segini udah bangun," she said, "mau ke mana?" which then I replied with a, "Mau sarapan yang enak, Tie." 

So, Mom made me these light and savory breakfast buns. Using the leftover burger buns from the fridge, that were about to expire, she toasted them and topped them with bacon, scrambled eggs, and melted cheese. Boy, it was a sight that made my eyes popped in the early morning.

I finished three buns and they were awesome! But, I do think they were missing a cherry on top: a nice drizzle of sweet and sticky maple syrup.


Wednesday, May 31, 2017

So Wow. Much Deep.

Hello, readers.

It is almost half past two in the morning, and here I am genuinely feeling okay for the first time in these past few weeks. I just got of the phone with my boyfriend, we just finished today's studies for an upcoming job recruitment test at Garuda Indonesia. We studied for a couple of hours, which is good for our first day.

I am happy with the fact that I am finally got my head back in the game. I am being productive, despite the fact that it has only been two days, and I'm feeling good about it. My Mom bought me a set of soft pastels today and I managed to add something into my canvas. And, by canvas, I meant my bedroom wall. I'm not much of an artsy person, but to be able to draw a blue whale in the sky is definitely something big for me. And the fact that it took me less than two hours on it is totally a big deal.

I have two projects that I'm currently on, which are the Jar of Happiness and a 25 Days of Writing. Let's sort it one by one, shall we?

So, the Jar of Happiness is this year long project of taking notes of what makes you happy each day. I get to write any happiness I felt that day on a piece of paper, doodle it, make it look pretty and artsy and stuff, then put it in a jar. By the same date next year, I will probably have a jar full of positivity and happiness, and I get to read all of it and be thankful for a wonderful and happy year. I believe there will always be a lego I will stepped on but, hey, every cloud has a silver lining.

Next, is the 25 Days of Writing which I found at Pinterest. I was scrolling through the endless page of DIY Jar of Happiness when I stumbled upon this challenge. I don't see why I can't do this. Other than the fact it challenge me to be a good writer, I also get to shape my creativity. Aku ya emoh kalau harus dipenjara. Wong badannya udah dirantai, mosok ya harus dirantai juga pikirannya?

And the fact that I have been talking to my Father for these past nights truly set my heart at ease. I have left Him for too long. :)

On the one side, for those who happen to be good friends with depression, anxiety, and any other form of mental issues you might suffering at the moment, hang in there.

Different people tend to have different ways to handle their monsters. I had to isolate myself.  I had to be alone to feel sane, yet I found myself always in a constant battle of needing to be alone and feel terribly lonely. It made me feel like I was chained. I called out for help, but I had the key to set me free in my grip all this long.

Reaching out to your friends might help, because it helped me. A lot. I talked to my best friends and, even though they always got to the point of screaming, "Kinan, safe yourself from yourself!", they were very supportive.

If you have a special someone, don't be afraid to ask for his shoulder to lean on. He won't mind your tears, he won't mind your insecurities, he won't mind the fact that you are fragile and weak as fuck and all you need was his support and him saying, "Every thing is going to be okay" (in my case, "Udah, nggak apa-apa, jangan sedih lagi. Nanti kita belajar lagi, yah."), he won't degrade you as the woman you are, he won't be as unsupportive as you thought he would be. Give him a chance to be there by your side when you break.

Try do things that (used to) make you happy. I got to the point of hating eating and hating writing. Both are the things I love most and I had my moment of not having any passion to do any of them. But, I gave them a chance and, eventually, they made me happy again.

You will get through this, I promise. 

Monday, May 29, 2017

Jalan-jalan ke Kota

Pas kemarin di Bali, ada satu hari di mana gue dan Ibu gue jalan-jalan ke kota untuk belanja dan nonton film di bioskop. Karena rumah kami memang letaknya di desa, kanan kiri sawah semua dan kalau malam-malam gelapnya kayak lagi program Live In di pedalaman kampung, kami memang benar-benar harus ke kota kalau mau mencari hiburan. Perkebunan padi seketika berubah menjadi jalan raya yang diramaikan kendaraan berplat nomor DK. Gue pun menjadi semangat saat sampai tujuan karena udah lama nggak ngeliat papan reklame bulat berwarna hijau tua dengan tulisan Starbucks. "Bener-bener kayak orang desa main ke kota, ya," ucap Ibu gue.

Perjalanan dari Desa Pejeng ke Denpasar kurang lebih dua jam. Destinasi pertama kami adalah Mal Bali Galeria yang terletak di sisi Jalan By Pass. Dengan desain gedung yang sepertinya mengikuti gedung tradisional di Bali, Mal itu tampak beda dengan mall-mall lainnya yang pernah gue kunjungi. Hanya dua lantai, bangunannya luas dan tidak dihias dengan Air Conditioner di setiap sudutnya, dan dilengkapi dengan area berjalan yang hijau di tengah-tengahnya. Ibarat donat tapi dalam bentuk kotak dan adalah sebuah bangunan. 

Siang itu, kami mampir ke bioskop yang ada di Mal Bali Galeria dan menikmatti indahnya nonton film keluaran terbaru dalam keadaan sepi. Belum pernah, seumur hidup gue, gue nonton film dengan keadaan sesepi dan sekosong itu. Cuma ada lima orang doang dalam satu studio!  

Kami nonton Alien: Covenant. Gue penggemar berat seri film Alien karena itu adalah makanan sehari-hari gue saat gue masih berumur 4 tahun. Iya, sekecil itu gue udah nonton film garapan Ridley Scott dari yang pertama sampai yang keempat. Gue bahkan inget banget di suatu siang, saat gue masih TK dan sedang disuapin sama Ibu gue, gue lebih memilih nonton Alien ketimbang film Robin Hood karya Disney. 

Tapi film itu pun yang menyebabkan gue takut setengah mati berenang di kolam, dan di laut. Pokoknya aktivitas apapun yang mengharuskan gue untuk berinteraksi dengan air, gue ogah, dan ketakutan ini berlangsung sampai gue kelas 3 SD. Akhirnya, setelah gue dipaksa ikut kursus dan berhasil berenang dari tepi kolam ke tepi seberangnya, dalam keadaan hujan badai yang membuat air kolamnya butek nggak karuan, atas dorongan Bapak gue, gue pun berhasil menghilangkan rasa takut dikejar-kejar Xenomorph di dalam air.


Selesai nonton film, gue kepingin makan yang berkuah karena, ternyata gue baru sadar bahwa makanan berkuah adalah comfort food buat gue, gue mendapat kabar yang nggak enakin. Jadi, ketimbang seharian mecucu dan menyebarkan hawa negatif ke seluruh penjuru Denpasar, gue memutuskan untuk makan Soto Betawi di Kafe Betawi.




Ditemani kerupuk oren yang rasanya terlalu bagus kalau dibandingin dengan kerupuk oren ala tukang ketoprak gerobakan, gue melahap Soto Betawi gue yang dihias dengan remahan emping dan bawang goreng. Rasanya nggak kayak Soto Betawi sama sekali, lebih kayak sayur lodeh. Terlalu banyak santan, terlalu manis, dan nggak ada gurih-gurihnya blas. Agak mengecewakan, tapi cukup untuk menghibur hati yang lagi gundah. Ditambahin sambel pun nggak ngaruh apa-apa karena rasanya tetap kayak sayur lodeh dan bukan rasa soto.



Sebelum meninggalkan Mal Bali Galieria, untuk ketemuan dengan Tante gue di daerah Seminyak, gue sempet mampir ke gerai Starbucks yang membuka cabangnya di mal tersebut dan membeli tumbler yang gue kepingin dari kapan tau. Sayangnya, desain tumbler yang gue mau udah nggak ada, karena udah lewat musimnya, jadinya gue pilih yang paling murah aja. Tadinya gue mau bayar pakai Starbucks Card, karena bisa dikasih diskon 10% untuk tumbler-nya dan dapat minuman gratis seukuran Tall, sayangnya mesin pengoperasian kartunya sedang error. Batal dapat diskon, deh. But I got me this tall-sized Iced Shaken Lemonade, with Passion Fruit Tea and less ice, so yay!


Yang tadinya mau ketemuan di Nalu Bowls harus diganti karena, saat itu, Nalu Bowls akan tutup dalam waktu satu jam. Akhirnya kami pindah haluan dan memutuskan untuk ketemuan di Earth Cafe yang terletak di sisi Jalan Kayu Aya. 


Nggak susah kok untuk menemukan Earth Cafe ini karena terbantu dengan papan reklame warna hijau yang kemungkinannya kecil untuk kelewatan. Awalnya sempat bingung mau parkir di mana karena cafe ini mungil banget, tapi ternyata ada parkiran khusus di dalamnya yang bisa memuat mobil dalam hitungan jari dan beberapa motor.



Karena saat itu gue lagi sok-sokan mau menerapkan hidup hits dengan diet sehat, jadilah gue pesan chia pudding parfait ini yang nama aslinya gue lupa. Parfait ini terbuat dari chia seeds yang dicampur dengan almond milk hingga mengembang, yang kemudian dihias dengan potongan stroberi, potongan mangga, taburan kuaci dan goji berry, tumpahan pemanis alami yang terbuat dari kurma, sedikit yogurt, dan parutan kelapa kering. Wow, Kinan jadi vegan! Hidup vegan!


Gue nggak nyangka makanan sekecil ini ternyata semengenyangkan itu. Asli, gue kenyang banget makan beginian doang! Beberapa suap terakhir itu rasanya menyiksa, entah kenapa. Sebenarnya enak kok, meskipun kalau chia puddingnya dimakan sendiri aja akan terasa sangat hambar maka dari itu dikasih segala hiasan biar ada rasa sedikit, tapi lama-lama lidah gue bosen juga dengan makanan vegan dan organik ini. Gue sangat merekomendasikan parfait ini untuk kalian yang asli vegan dan yang sedang diet sehat.


Sementara itu, Ibu gue tengah sibuk dengan jamur goreng kriuk dan jus C4-nya yang terdiri dari wortel, timun, dan apel. Kenapa ya, rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau? Kayaknya enak banget Ibu gue ngunyah potongan-potongan jamur yang dibalut tepung garing nan gurih. Makannya pakai kecap asin pula, tambah enak kan jadinya!




Sudah, deh, setelah kenyang menyantap biji ngembang yang rasanya hambar itu, gue dan Ibu gue memutuskan untuk kembali ke Desa Pejeng. Sudah cukup jalan-jalannya di kota, besok-besok lagi kalau udah suntuk dengan sawah dan segala hutan belantaranya. Dan gue pun harus menyetir dalam posisi kekenyangan yang membuat gue agak mengantuk. Sip.


Kafe Betawi
Mal Bali Galeria
Jl. By Pass I Gusti Ngurah Rai

Opening Hours:
Monday - Sunday: 10AM - 10PM


Starbucks
Mal Bali Galeria
Jl. By Pass I Gusti Ngurah Rai

Opening Hours:
Monday - Sunday: 10AM - 10PM


Earth Cafe
Jl. Kayu Aya, Seminyak

Opening Hours:
Monday - Sunday: 7AM - 11PM
This morning, I woke up with content. I talked to one of my best friends last night and she was, surprisingly, very emotionally supportive regarding all the depression I have been having this past weeks. I even got a new diet method that I'm gonna try first thing tomorrow!

The fact that there is someone out there who understands you more than you do yourself and care about you is overwhelming.  It made me feel good. Finally. :)

Sunday, May 28, 2017

Jejak Kaki di Jepang

I'm not going to stop writing over feelings I'm having that I can't explain. As hard as it is for me to pour words onto this cyber blank sheet of paper, I'm still going to try anyway.

On this post, I'm going to share a  bit about the last time I went to Japan. It was the two of of, my Mom and I, and we stayed at Tokyo for five days. We strolled, we took pictures, we ate (a lot), we shopped for cameras at Yodobashi, we did all the fun things all duos of Mom and daughter can do.


I didn't take pictures as I usually do because, that time, I was trying to focus on my videos. You see, this YouTube channel of mine consists of travel vlogs, one of them being my Japan adventure. If you are interested, which I believe you do, just check out some of the vlogs bellow. It's simply a series of eating, and eating, and discovering the awesomeness of Japan's public toiler, and eating again. 

Enjoy~ 


Sunday Fun Day!

I ate something delicious for brunch this morning! It's been quite challenging to find food that makes me happy nowadays. It used to be so easy back when I was all sunny, as long as its' a dessert, or ice cream related, or something new, it would always lift up my spirits. But, it hasn't been like that at all, so I was pretty excited about it. 


I am familiar with it being called Choi Pan to some people, a traditional snack from Indonesia in which is a clump of shredded yam enveloped with a very thin dough made out of rice flour. It is then bathe with an orange spicy sauce, with a hint of sweet and sour here and there, and topped with fried shallots. 


The Choi Pan vendor set up his place just across the street from my church. Among all of the snack vendors parked there this morning, I decided that I wanted to have the Choi Pan after my mid morning mass. On his motorcycle, the Choi Pan vendor placed this large aluminium container consists of the rice flour dough, the deep-fried dishes, and the bottle sauce to go with the snack. He then swiftly move his scissor across the dishes and place them on this plastic food container, garnish them well, and serve them to us, along with a plastic spoon. 



I have no idea what the deep-fried snacks official names are, but I am familiar with them being called risol, or lumpia goreng, somay, gorengan bengkoang, and aci goreng. Risol is basically your vermicelli-filled spring rolls, while somay is just the Indonesian name of your shumai, gorengan bengkoang and aci goreng are both deep-fried with one being yam and the other being rice flour. 

I had me two pieces of gorengan bengkoang, one of each from the other deep-fried snacks, and two pieces of rice flour dough, or the Choi Pan dumpling skin, and they costed only Rp21.000,00! Lord, have mercy. 


I bullshit you not, they were super tasty! If this were a parfait of Ice Cream Sundae, the orange sauce would be the chocolate fudge, while the fried shallots acted as the cherry on top. All of the deep-fried goods, even though they tasted slightly different from one another, but they were all just darn good fried stuff. And the rice flour dough, oh my, it was fantastic! Everything inside that plastic container was delicious, it made me happy I almost forgot all of the emotional burden I have been having this past weeks. 




Jajanan Asongan
Across Gereja Kristen Indonesia
Jl. Panglima Polim 1 No. 51A
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan

Sunday fun day! 

Friday, May 26, 2017

Meh.

I went to Grand Metropolitan Mall, Bekasi, with Mom to buy some groceries and have dinner. I had an appetite for some Korean cuisine, so we went to Mujigae. Like usual, the staff greeted us with their signature, "Annyeong hashimnikka!" and "Annyeong haseyo!".

I ordered myself a set of Budae Jigae that costed Rp47.000,00, minus the tax, while Mom had her share of Beef Luncheon Ramyun. We also ordered a side dish that went by the name Original Korean Fried Chicken, a few pieces of boneless chicken meat bathed in a spicy and sweet red sauce. It didn't take long for our food to be served.


It was my first Budae Jigae. The Budae Jigae itself was more or less a hotpot of ramyun, or noodles, garnished with some macaroni, sausage, beef spam, leek, spicy minced meat, and egg bathe in red broth. It had this weird sweet flavor that I didn't quite fond of at first. The more I eat it, the sweetness disappear and was replaced by a spicy and sour flavor. It was okay, I guess.

After dinner, we went around the mall to shop more. Mom bought me a white shelf trolley for my printer at Informa and three pieces of beautiful clothes from Cotton On. We also shop for food and ingredients for my rendezvous with my girlfriends tomorrow. Mom is planning on making Quiche.

Oh yeah, I also bought me a lip tint from Body Shop! It has this beautiful, almost nude and neutral, dark cherry color that suits my skin color nicely. I'm not familiar with lip tints as this was my first time using it, but it was pretty handy to apply on.

And, for a second there, I thought that I managed to survive today without feeling sad or broken. But, I was wrong. The more I fake it, the more in eclipses my well being. Even painting my right hand's nails the color of mermaid's tail did nothing.

Not Today

Today, I woke up knowing that it's going to be a shitty day. But, I'm not just going to let myself dwell on it. So, I brought myself to get out of bed, reached out to my girlfriends, gave me a long and refreshing shower, painted my nails the color of Eragon, and made myself a nice loaf of brownies.

I looked up the recipe online. After minutes of scrolling and contemplating about which recipe I should use, I finally decided to use this one. I was too lazy to measure the ingredients in grams, so I settled with cups. It took some minutes to prepare the batter then, when I'm done, I put it in the oven for about 40 minutes.

The result was fine, if I may say. It doesn't look like how brownies should look like, with its' even and cracked surface, but it was okay. I cut into it to have a tasted and it also doesn't have the texture of a brownies. Maybe I did something wrong with the batter that made it have the texture of a spongy chocolate cake but, hey, I'm down with that.

In life, sometimes, things just don't work out the way you want it to be. Even when you think you did the best you could, without making any mistakes whatsoever, shit still happens. Let alone if you do make a blunder, big or small. But, it's okay. That's just how life works.

Now, are you gonna let yourself be down in the dumps? I say, not today.


Tuesday, May 23, 2017

Ikan Tenggiri Balado

Siang ini Ibu gue masak Ikan Tenggiri Balado, lho. Enak banget, suer! Daritadi gue berpikir keras gimana caranya menuangkan kata-kata ke dalam postingan blog siang ini mengenai masakan Ibu gue yang satu itu, tapi ujung-ujungnya cuma bisa gue hapus lagi dan hapus lagi. Enaknya bikin bego. 


Ikan Tenggiri Balado ini adalah salah satu masakan Ibu gue yang gue doyan banget. Padahal beliau alergi seafood, kecuali cumi-cumi, tapi masakannya tetap enak meskipun nggak dicicip selama proses masak. Dan, kelihatannya nggak begitu rumit untuk memasak makanan yang satu ini: hanya tinggal goreng ikannya, dimasak dengan racikan sambal balado, dan voila! Nggak susah, kan? 

Ujung-ujungnya, gue cuma bisa duduk bego, kekenyangan, dan berjuang keras untuk mengucapkan, "Tie, enak banget ikannya." setelah selesai makan.



Friday, May 19, 2017

Smoothie Bowl Sore Tadi

Sore ini pun gue bikin smoothie bowl juga, lho! Tadi siang, sehabis ngurus SKCK yang belum kelar sehingga gue harus balik ke polsek lagi Senin besok, gue dan Ibu gue mampir ke Total Buah Segar yang baru buka di daerah Kalimalang. Di sana kami belanja buah banyak banget, saking banyaknya sampai ada yang ketinggalan di mesin timbangan dan nggak kebayar. Sedih.

Sekali lagi, takarannya masih ngasal, tapi kali ini gue nggak menambahkan air sedikit pun. Hasilnya masih agak terlalu encer, sih, tapi nggak seencer kali pertama gue coba. Gue pakai campuran pisang Sunpride, buah naga merah, dan apel merah yang besarnya nggak lebih besar dari bogem gue. Dan, seperti yang gue duga, rasanya didominasi oleh pisang. Lucky for me that's what I like~

Platting skill gue pun masih perlu diasah. Tapi, ya sudah lah, ya..


Gue Bikin Smoothie Bowl, lho!

Ternyata mood mempengaruhi pembawaan menulis seseorang, ya. Selama gue di Bali, rasanya lancar terus setiap ngeblog. Sehari bisa tiga sampai empat postingan gue jabanin dan, rata-rata, semuanya ditulis dengan waras dan pemilihan kata-kata yang cukup manusiawi. Tapi, semenjak pulang ke Bekasi kemarin, hasrat gue untuk menulis kok jadi berkurang, ya? Apa mungkin karena lagi sedih? Ah, pasti karena itu.


Selama di Bali, gue berusaha untuk menjaga pola makan gue, walaupun akhirnya gagal juga. Gue berhasil detox apel selama tiga hari - yang membuat mood gue acak-acakan, badan gue lemas, dan lancar buang air besar. Don't get me wrong, it was good in so many levels, but it was not as easy as I expect it to be. It was fine while it lasted, though. 


Setelah program detox gue berakhir, gue masih mencoba untuk menjaga makanan yang gue konsumsi. Berniat untuk menjalani no-carbs and no-sugar diet, tapi sayangnya gue secinta itu dengan nasi dan roti, apalagi roti-roti Eropa. Gagal sudah rencana untuk mengonsumsi hanya protein dan serat setiap harinya. 

Tapi, untungnya rencana gue nggak sepenuhnya gagal karena terbantu oleh hasrat gue untuk membuat smoothie bowl sendiri di rumah. Ketimbang harus keluar uang berlembar-lembar demi bubur buah seiprit, mendingan gue buat sendiri, ya, kan? Bahan-bahannya pun nggak rumit, hanya buah dan blender, tok. Selain gue bisa mencari kombinasi rasa dan melatih platting skill, berat badan gue cenderung menjadi konsisten dan nggak naik-naik amat untungnya. Tetap aja berat, sih..

Waktu itu gue masih punya sisa beberapa buah Apel Malang dari program detox gue dan sebongkah buah naga merah yang besarnya hampir seukuran kepala gue - entah buahnya yang bermutasi, atau kepala gue yang terlalu kecil - dan keduanya gue pakai untuk membuat smoothie bowl. 

Karena gue nggak peduli pada takaran buah dan air, jadi aja gue masukin semua ke dalam blender. Potong apelnya, potong buah naganya, kasih air sedikit, blender sampai menjadi bubur, dan voila! smoothie bowl gue keenceran. Seharusnya, gue nggak perlu menambahkan air lagi karena buah naga sudah mengandung air yang cukup banyak. 


Yang paling gue suka dari smoothie bowl adalah topping hiasannya. You can never go wrong with your toppings. You just have to let your imagination do the magic and, there you have it, your own creation of smoothie bowl. Nggak perlu mahal-mahal keluarin duit berwarna merah jambu untuk dikembalikan dalam bentuk dua lembar uang ribuan, kan, jadinya.

Gue masih harus berlatih lebih keras lagi dalam hal plating karena keahlian gue dalam menghias makanan belum begitu bagus. Masih berantakan, masih nggak seimbang, masih suka-suka hati. Tapi, toh, yang makan diri gue sendiri, kan? Dan, toh, semua yang ada di mangkuk itu nanti akan kecampur juga di dalam perut, betul, bukan? 

Kebetulan, gue juga punya segayung low-fat yogurt di kulkas. Asli, sebanyak volume gayung buat mandi, gue nggak bohong! Tadinya mau gue pakai sebagai hiasan juga, dicampur dengan bubur buahnya dan dibikin motif yang cantik, tapi gagal karena tekstur dan kekentalannya berbeda. Ya udah aja gue ceburin di situ.


Mengenai granola yang gue pakai, gue belinya di Coco Mart seharga sekitar Rp65.000,00 satu kantongnya. Dari semua pilihan granola yang ada di supermarket tersebut, granola produkan East Bali Cashew's ini adalah yang paling murah, lho! Variannya ada macam-macam. Gue beli yang ini karena tergiur dengan potongan pisang kering yang seharusnya ada di dalam kemasannya. 

Granola ini rasanya manis dari cane sugar-nya, yang sedikit mengingatkan gue akan teh tarik di Warung Bu Nana. Banyak banget komponen yang ada di dalam kemasan ini, dari potongan kelapa, kacang mede, oat, potongan buah kering, dan beberapa lagi yang bentuknya gue yakin lo juga nggak bakal ngenalin. Digadoin pun enak! Tapi, kalau dimakan terlalu banyak tanpa pendamping yang bisa netralin rasanya, lo bakal mual saking manisnya. Emang cocoknya dipakai sebagai topping smoothie bowl, sih, gue rasa. 

Abis ini mau lanjut nulis lagi, ah. Kayaknya kumatnya pelan-pelan hilang dibawa nulis..