Sunday, April 30, 2017

Nasi Rawon Hangat

Pernah suatu malam, saat lagi hujan dan gue lagi dapat shift jaga education booth-nya Global Prestasi School di Summarecon Mall Bekasi, gue menyantap makan malam di salah satu restoran Indonesia bernama Sagoo Kitchen. Waktu itu, hati gue lagi nggak enak, hujan deras banget, hawanya dingin, dan rasanya enak kalau makan yang hangat dan berkuah, jadi lah gue memilih tempat makan yang menyajikan Soto Ayam sebagai salah satu menunya.

Awalnya memang pingin pesan Soto Ayam, tapi setelah gue telusuri menu Sagoo Kitchen dari depan sampai belakang, "Kayaknya lebih enak Nasi Rawon, deh," pikir gue. Dalam satu set Nasi Rawon seharga Rp45.000,00 tersebut sudah dapat setengahan telur asin rebus, kerupuk udang, kecambah, dan sambal terasi, menurut gue itu tawaran yang cukup membahagiakan. "Mas," panggil gue ke salah satu pelayan di restoran dengan tema jadul itu, "Nasi Rawonnya satu, ya."

Iya, ada unsur kesengajaan kenapa gue memilih meja dengan nomor 12. Kamu pasti tau, kan?


Sekitar 15 menit setelah gue memesan, makan malam gue datang dan disajikan di meja oleh pelayan yang berbeda. Pikiran pertama gue adalah, "Pasti ini cuma makanan yang diangetin doang," karena nggak mungkin membuat Rawon hanya butuh 15 menit saja. Persetan, lah, mungkin kalau gue punya restoran juga kebanyakan makanan gue yang berbentuk sup, atau berkuah, pastilah hanya modal dihangatkan doang.

Selesai gue berdoa, gue langsung menyelupkan sendok gue kedalam kuah berwarna hitam itu dan mencicipinya. Buset, bukan main, enak banget! Bumbunya gurih dan rasanya nendang, asinnya cukup untuk lidah gue, dan hangatnya kuah Rawon itu membuat santapan itu jadi makin lezat. Benar-benar layak untuk gue berikan acungan jempol!

Nasinya nggak lembek dan nggak pera, teksturnya pas untuk gue. Telur asinnya pun asin, maksudnya bukan cuma sembarang telur rebus biasa yang menyandang nama telur asin. Kecambahnya nggak memiliki peranan yang begitu besar, menurut gue, tapi seandainya porsinya lebih banyak, gue akan lebih senang. Gue nggak begitu suka dengan sambal terasinya karena kurang manis buat gue. Rasanya lebih ke gurih dan asin, jadinya gue nggak menambahkan begitu banyak ke dalam Rawon gue.


Asli, Rawonnya enak banget. Untuk harga segitu, gue nggak protes, karena memang enak banget. Potongan dagingnya pun nggak begitu banyak lemaknya, meskipun saat gue pesan di awal gue lupa untuk memberitahu Mas pelayannya untuk dipilihin dagingnya saja. Gue nggak doyan gajih, soalnya. Tapi, untungnya, lebih banyak dagingnya ketimbang lemak, which is nice. 


Seketika gue rasanya lapar banget dan kepingin cepat-cepat menghabiskan Nasi Rawon itu. Tapi, dilain sisi, agak sayang untuk dihabisin karena enak banget. Gue memang kebiasaan mengeman-eman makanan, tapi kali ini gue bimbang banget antara mau dieman atau dihabisin tanpa sisa.

Saking enaknya Rawon ini, gue sampai menuliskan 'surat cinta' pendek untuk kokinya. Gue puji dari lubuk hati yang paling dalam dan gue berterima kasih kepada kokinya karena sudah memasak masakan seenak ini. Saking enaknya sampai-sampai gue lupa dengan problematika nggak penting yang bikin hati gue nggak enak selama semingguan penuh.


Sagoo Kitchen
Summarecon Mall Bekasi Lt. Ground
Jl. Ahmad Yani, Bekasi Utara

Opening Hours:
Monday - Sunday: 10AM -10PM

Contact:
(+62)21 2957 2598

Lagi dan Lagi dan Lagi

Jangan bosen, ya! Kan, kemarin udah gue bilang bahwa gue lagi ketagihan banget sama Martabak Manis Tipis Keringnya Martabak Bro. Setelah nyobain salah dua menu dari varian pilihan martabaknya Martabak Bro, akhirnya gue memutuskan untuk nyobain martabak tipker dengan rasa dan topping lain, yaitu Redvelvet dan Choco Cheese.


Tepuk tangan untuk Martabak Bro untuk menyajikan produk martabak tipker yang konsisten, meskipun harganya kurang bersahabat untuk dompet mahasiswa apalagi dompet taruna, dengan pilihan topping yang neko-neko, tapi masuk di lidah. Woohoo!


Sekali lagi, gue memesannya melalui layanan jasa GrabFood. Berhubung kedai martabaknya hanya sekitar 2 menit dari rumah gue kalau naik motor, nggak butuh waktu yang begitu lama untuk pesanan gue sampai di rumah. Kurang dari waktu yang dijanjikan di aplikasi, yaitu satu jam.

Martabak yang gue pesan adalah, salah satunya, Martabak Manis Tipis Kering Spesial rasa Redvelvet. Warnanya merah dan gue rasa pakai pewarna, ya, karena menurut gue jarang banget ada tempat makan yang kalau di menunya ada Redvelvet udah nggak lagi menggunakan buah bit, atau beet root. Yang paling gampang, murah, dan efisien adalah nggak kurang dan nggak lebih dari pewarna makanan. Tapi, bisa jadi gue salah informasi, do correct me if I'm wrong.



Bentukannya nggak beda jauh dari martabak yang satu ini, yang membedakan hanya warnanya aja. Sama-sama diolesi cream cheese, sama-sama ditaburi remah-remah Oreo, dan rasanya pun nggak begitu berbeda. Sayangnya, gue nggak menerima martabak yang satu ini dalam kondisi kering, melainkan agak memble dan lembek. Nggak apa-apa, sih, toh memberikan efek negatif yang besar pada martabaknya. Tapi, ya, nggak ada sensasi garing dan kriuknya.

Kemudian, martabak kedua adalah Martabak Manis Tipis Kering Spesial rasa Choco Cheese. Yang satu ini gue sengaja pesan untuk Ibu gue karena beliau nggak suka makanan yang terlalu neko-neko. Jadi, lah, gue pesenin menu yang bisa dibilang standard.



Adonan yang dipanggang sampai kecoklatan itu garingnya bukan main! Diisi dengan taburan meses, parutan keju, dan sedikit olesan cream cheese, martabak tipker Choco Cheese ini cocok banget dicemilin oleh kalian yang menyukai kesederhanaan martabak. Paling harganya aja yang nggak terlalu sederhana. Tapi, gue jamin, kalian nggak akan komplain yang lain selain isiannya yang kurang banyak.

Bisa dibilang gue adalah orang yang menyukai kesederhanaan martabak. Gue nggak perlu martabak dengan topping dan warna yang macam-macam. Maksimal Redvelvet. Kalau untuk martabak yang pakai coklat Beng-beng, atau Kit Kat Green Tea, gue belum berani coba. Takut nyesel kalau ternyata nggak cocok di lidah, tapi duit sudah melayang. 

Tukang Kue Putu Keliling

Kue Putu, salah satu jajanan tradisional Indonesia yang gue syukuri keeksistensiannya yang belum berakhir di kalangan komplek rumah gue. Setiap sekitar jam 5 sore, mau cerah, mau hujan, pasti terdengar suara lengkingannya yang sudah menjadi khas para penjual Kue Putu. Ditemani gerobak dan payung andalannya, si Bapak seketika menjadi sigap dan menambah kecepatan berjalannya setelah gue melambaikan tangan ke kamera karena tidak kuat. Eh, bukan..


"Berapa, Pak," gue tanya, yang kemudian dibalas dengan, "Seribuan aja, Neng." Gue kaget. Masa gue dikira orang Sunda, kan harusnya "Mbak" berhubung gue orang Jawa!

Gue beli lima buah Kue Putu dan lima buah Klepon, bagi dua sama Ibu gue. Nggak lama, kok, proses pembuatan Kue Putunya. Tepung beras yang sudah dibubuhi pewarna alami dari daun pandan itu dimasukkan ke dalam cetakan Kue Putu yang terbuat dari bambu, lalu dimasukkan sejumput gula merah sebagai isian, kemudian ditimbun lagi dengan tepung beras sampai padat. Cetakan yang sudah diisi tersebut kemudian diletakkan diatas kalengan panas untuk dikukus. Yang bikin gue nggak habis pikir dari kecil sampai sekarang adalah, kok, bisa gitu isiannya nggak ambrol kebawah. Padahal kan dua sisinya sama-sama bolong.




Nggak lebih dari lima menit, Kue Putunya pun matang dan dikeluarkan dari cetakannya dengan cara disodok. Iya, disodok. Gue nggak ada pemilihan kata yang lebih bagus selain "sodok".

Nah, ini lagi, yang bikin gue nggak habis pikir. Gue paham betul bahwa Kue Putu yang baru saja disajikan oleh si Bapak itu masih panas tingkat dewa, tapi gue nggak memperdulikan fakta tersebut dan langsung gue lahap utuh-utuh. Manusia mana yang nggak menjerit kesakitan kalau lidahnya hampir bolong gara-gara lelehan gula merah? Baru, deh, setelah kapok keselomot (please, dong, pasti ada kan yang ngerti artinya "selomot") gue tunggu sampai agak dingin dulu baru gue makan.


Hambarnya tepung beras aroma pandan, kalau dipadukan dengan gula merah yang manis dan parutan kelapa yang gurih, tuh, enaknya khas banget. Itu, lah, rasa Kue Putu. Sayangnya, si Bapak kebiasaan bikin Kue Putu yang isian gula merahnya sedikit, dengan ratio 1:4 antara gula merah dan tapung beras. Mungkin lain kali, kalau beli lagi, gue harus request spesial untuk dibikin jadi lebih banyak isiannya.


Monday, April 24, 2017

Sanur's Gelato Secrets

Gue nggak punya tempat jajan gelato andalan setiap gue ke Bali. Pokoknya, selagi gue jalan dan tiba-tiba ketemu kedai yang jual gelato, gue pasti mampir dan jajan gelato minimal satu scoop. Dan lagi, harga satu scoop gelato di Bali nggak begitu mahal, kisarannya sekitar Rp15.000,00 sampai Rp30.000,00. Nah, kedai gelato yang sering gue kunjungin adalah Gelato Secrets, nggak kurang dan nggak lebih karena kedai yang satu ini tersebar dimana-mana kayak kuman, but in a good way. 


Pernah sekali, pas gue lagi nggak ada kerjaan siang-siang, sementara Bapak dan Ibu gue lagi seru-serunya diving di Tulamben, gue keluyuran di daerah Sanur dan nongkrong sendirian di Gelato Secrets layaknya jomblo sejati yang lagi mencari jati dirinya (waktu itu masih jomblo). Gelato pertama yang gue pesan adalah Strawberry Sorbet pakai cone. Sebenarnya, gue nggak begitu suka sorbet, gue lebih suka gelato dan es krim yang berbasis susu, tapi karena siang itu lagi terik banget dan kayaknya seger banget kalau mengonsumsi apapun yang nyerepet sirup, atau buah, jadilah gue nyemil gelato rasa buah stroberi. 


Kecut, tapi segar, dan manis. Mungkin karena tekstur gelato yang lebih kental dan padat ketimbang es krim pada umumnya, jadinya gue sibuk ngunyah sampai gelato gue habis. Belum puas, akhirnya gue pesan satu lagi, tapi di cup karena gue kenyang makan kerupuknya. Kalau nggak salah, ini antara rasa mangga, atau rasa markisa, gue lupa. Sama enaknya seperti Strawberry Sorbet yang sebelumnya gue lahap. 


Yang gue suka dari Gelato Secrets adalah varian menunya yang melibatkan waffle. Yes, I love waffles, terlebih lagi kalau pakai tambahan es krim dan topping neko-neko di atasnya. Di lain waktu, gue pernah memesan set waffle dan gelato, beserta tambahan whipped cream dan gula bubuk di atasnya, dengan harga Rp25.000,00. Nggak begitu mahal, kan? 


Memang wafflenya bukan waffle yang fresh dimasak di tempat, melainkan waffle beku yang sekedar dihangatkan pakai microwave, tapi cukup, kok, buat pelipur lara. Gue lupa gelato rasa apa yang gue pesan untuk menemasi waffle hangat gue, kalau nggak salah ada hubungannya dengan coklat dan Ferrero Rocher. Anyways, waffle mana, sih, yang nggak enak pakai gelato? Setelah cemilan malam gue habis, gue pun bahagia. Masalah lemak, dipikir belakangan aja. 


Gelato Secrets
Jalan Danau Tamblingan
Sanur, Bali

Opening Hours:
Monday - Sunday: 8AM - 11PM

Nu Oceana's Sea Salt Lemonade

Gue nggak bakal nyobain produk baru karya PT ABC President Indonesia yang satu ini kalau nggak dikasih tau sama Dheo. "Adek aku udah pernah coba, lho. Katanya enak," begitu katanya. Penasaran, dong, apalagi ada embel-embel "sea salt" di kemasan produknya, gue makin ngebet kepinging nyobain. Sayangnya, pas gue lagi coba cari di supermarket, entah kenapa nggak ada terus. Sampai pada akhirnya, pas gue lagi nggak nyari, botolnya muncul selagi gue kelayapan di salah satu lorong Farmers Market.


Ekspektasi gue adalah minuman ini akan berasa asin, tapi manis, persis kayak Sea Salt Ice Cream, tapi tanpa rasa Vanilla-nya. Gue coba, lah, mumpung lagi ada waktu 37 detik sebelum hero gue respawn (Iya, waktu itu lagi main DOTA sama Dheo). Udah deg-degan sama rasanya yang sepertinya bakal ajaib banget dan ternyata.. biasa aja. Agak mirip Pocari Sweat, tapi lebih mirip Mizone. Rasanya manis dan cenderung kuat di rasa lemonnya, tapi nggak ada rasa asin dari sea salt-nya sama sekali. Kayaknya lebih asinan minum Oralit ketimbang ini.

Ya, enak-enak aja, sih, buat kalian yang gemar banget sama Mizone. Lebih enak lagi kalau diminumnya saat dingin. Tapi, gue kecewa. Rasanya ya udah, nggak ajaib. 

Raffel's Cheese Steak Sandwich to the Rescue

It seems like my pictures of Raffel's Cheese Steak Sandwich do no justice to the actual product. You readers are gonna have to bare it with me, yes?


So, this evening, I was craving for Subway's sandwich so so bad. The last time I had my share of Subway was when I was at Narita Airport, during my last trip to Japan. I was waiting for Thai Air's locket to open, so that my Mom and I could check in, and I killed time with my custom regular sandwich from Subway. I had Honey Oats buns with bacon, eggs, ham, roast beef, and cheese. Boy, that was one amazing sandwich. No sauce, no veggies, just the simple protein and buns. 

Unfortunately, we don't have any Subways here in Bekasi, nonetheless Indonesia that I know of. I searched through the Go-Jek application of restaurants that have sandwiches on their menu, but when I found one, it doesn't serve the kind of sandwich I wanted. Until, I stumbled upon Raffel's.. 


Yes, Raffel's. I have never had Raffel's before in my 22 years of walking on the planet Earth, but it had the sub sandwich that I wanted, so I decided to give it a try. I ordered a Cheese Steak Sandwich - which is basically a parmesan sub roll filled with roast beef, mozzarella cheese, and mushroom sauce - some Buffalo Chicken Wings and Roast Chicken Salad for Mom. It took almost an hour for my order to arrive and thank God the food was okay as they were still warm and not soggy. 

The bread was soft, which was okay, but I would prefer if it were a bit hard on the outside and chewy on the inside like how bagels are. It was filled with a decent amount of roast beef, which looked nothing like how it was portrayed on the menu - it looked like those teriyaki beef that you can find at Hoka Hoka Bento's menu - but it was delicious, so I'm fine with it. Delicious sweet caramelized onion, combined with the melted mozzarella and the mushroom sauce, made it a nice combination of flavor. The sandwich was delicious. I'm happy with it. 


What startled me was the fact that the sandwich was half a sandwich, because I thought that I would get a foot-long. Turns out, it was only half of it. A bit expensive, the sub sandwich costed me Rp50.000,00, but it was fine. All is good. 

Friday, April 21, 2017

A Wacky Impromptu Birthday Surprise

A few days ago, I threw my man a little surprise on his birthday. Technically, it was a surprise. But, would you call it a surprise if the victim could tell that he was about to get surprised beforehand? I guess not.

I drove to the front of his house street with a present I wrapped myself and a bag of McDonald's a la carté Cheeseburger as his birthday cake. I called him via LINE just to listen to how he was abusing his monitor by playing this new RPG game that he just downloaded. "Do you know how much my Damage Point is," he asked, "one million!"

I have never been good at giving birthday surprises, including this one. As I called, he was about to drive his Mother and his niece to a hospital nearby and I was slightly devastated by how my birthday surprise didn't go according to my plan. I managed to buy some time tho, as I was trying to brainstorm for an impromptu plan B, until he finally said, "Aku jadinya keluar abis shalat ashar." Boom!

"Oke, sekarang ganti baju, jalan kaki ke depan, aku tunggu di parkiran kantor pos, bye," I said to him. I could hear his ungrateful, "Laahhh?!" just before I cut off the line.

Finally, after a ten-minute wait and a quick call from him, making sure that he was about to get a birthday surprise, he came. He had this smug on his face, knowing that he was probably about to get cake allover his face in a matter of minutes. I couldn't contain myself from bursting out this bucketful of nervousness I had contained of wanting to make this surprise a success and it just spilled everywhere.


I brought out the birthday burger, penetrated the "2" and "3" candles into the bun to spell out his age, lit them up, and awkwardly shouting "Happy Birthday!" We both didn't know what to do with ourselves we ended up laughing. It was awkward, a bit cringey in a way, but cute. I handed him the burger, telling him to blow the candle, and he accepted the so-called birthday cake awkwardly as well and requested to be sung "Tiup Lilinnya".

"Make a wish," I told him after an ugly one-woman singing show. He made a wish and blew the candle. We, then, immersed in laughter. Never in my life I pull out a birthday surprise this wacky.



Sunday, April 16, 2017

Taco Local: Good Food, Bad Service

Pagi ini, sepulang dari kebaktian Minggu Paskah, gue dan Ibu gue mampir ke Taco Local untuk nyemil kue lapis. Eh, bukan, nyemil Taco maksudnya. Sekitar jam setengah sepuluh kurang, gue telfon nomor telfon tempat makan ala Mexico tersebut untuk mengonfirmasi kebenaran jam bukanya, sesuai dengan informasi yang gue dapat dari ZOMATO yaitu dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam, tapi sayangnya sambungannya sedang sibuk. Ya sudah, gue beranikan diri untuk langsung datang ke tempatnya. Eh, bener dong, sampai di sana masih belum buka. "15 menit lagi, Bu," kata Bapak tukang vallet. Emangnya gue setua itu, ya?



Seperti biasa, parkiran di Pelaspas Dharmawangsa selalu penuh kendaraan - entah itu mobil punya pelanggan atau punya pemilik kedainya - sehingga, mau nggak mau, gue harus menggunakan jasa vallet. Lumayan manusiawi, kok, harganya hanya Rp25.000,00. Tapi, ya, kalau di warteg, dengan nominal segitu bisa beli makan dua kali, sih.


Pelaspas Dharmawangsa ini, sebenernya, adalah gedung yang isinya berbagai macam cafe dan tempat makan - kurang lebih konsepnya sama dengan ShopHaus yang ada di Menteng. Dua tempat favorit gue di Pelaspas Dharmawangsa adalah SNCTRY, yaitu health bar yang menyajikan varian Smoothie Bowl yang enak dan sehat, dan Taco Local, warung makan Taco yang meskipun Taconya enak dan gue doyan banget tapi pelayanannya sangat sangat kurang.



Iya, pelayanannya kurang. Dari sepuluh bintang, mungkin akan gue kasih tiga setengah. Jahat, ya? Maaf, ya. Tapi, begitulah adanya.

Pas sekitar 15 menit menuju jam sepuluh, gue akhirnya memesan menu Taco untuk gue santap bareng Ibu gue. Saat gue pesan pun, abang waiter-nya masih agak kelabakan untuk melayani karena alasan yang nggak gue tau apa. Dia udah mengambil kertas untuk mencatat pesanan gue, tapi kemudian keluar untuk mempersilahkan masuk bapak Go-Jek yang, mungkin, udah nunggu-nungguin tempat itu buka dari jam sembilan tadi. Gue di situ speechless. Nggak ada "Ditunggu sebentar, ya, Kak" atau "Maaf, ya, Kak", langsung nyelonong keluar dan kembali lagi ke depan gue tanpa dosa. "Iya, Kak, pesanannya," tanyanya.



Karena sebelumnya gue udah pernah nyemil di Taco Local bareng Icha dan Angel, dua sahabat gue dari jaman SMP sampai sekarang, jadi gue nggak terlalu bingung mau pesan apa. Gue pesan dua, yaitu Carnitas Taco dan Lengua Taco. Dua-duanya nggak halal, alias berlimpah daging babi, tapi uenaknya pol!



Di sini, gue menemukan satu lagi yang disayangkan dari Taco Local, yaitu pemilihan prioritas pelanggan. Sepengetahuan gue, gue adalah pemesan pertama, baru yang kedua adalah bapak Go-Jek yang tadi gue ceritain. Tapi, pesanan bapak Go-Jek itu selesai lebih dulu daripada gue dan gue harus menunggu sampai, kurang lebih, dua puluh menit untuk pesanan gue disajikan. It's not that big of a deal, to be honest, but I tend to notice small things like that. Dan, dari beberapa video yang gue temukan di YouTube mengenai Taco asli asal Mexico, nggak lebih dari lima menit, lho, untuk para pedagang asongan menyajikan satu porsi Taco. Satu porsi isi berapa, ada yang tau? Lima.

Akhirnya, datanglah Carnitas Taco dan Lengua Taco kami. Yang langsung gue lahap tanpa malu-malu adalah Carnitas Taco, Taco isi suwiran daging babi panggang manis bersimbah saus salsa yang asam dan menyegarkan, olesan Guacamole, yaitu saus cocol yang terbuat dari buah alpukat dan perasan buah lemon, potongan nanas panggang, dan kerupuk babi sebagai pelengkap. Wuih, sedapnya beneran sedap. I totally dig Taco Local for its' delicious Taco. 




Sayangnya, ada yang kurang, yaitu kerupuk babi, atau crispy pork rind-nya. Gue tanya lah ke abang waiter-nya, mumpung belum gue lahap habis Taco yang satunya lagi. "Mas, kerupuk babinya nggak ada, ya," tanya gue. Spontan Masnya terkejut dan membalas gue dengan, "Iya, Kak, crispy pork rind-nya nggak ada. Belum ready, Kak." Huh, seketika dongkol.

"Tapi, harusnya memang ada di menunya kan ya, Mas, cuma nggak ready aja," tanya gue lagi.

"Iya, Kak, belum ready. Tadi saya mau menginfokan, tapi lupa. Maaf ya, Kak," balasnya.

Manis banget senyuman gue, padahal dalam hati dongkol. "Iya, Mas, nggak apa-apa. Makasih, ya."



Lengua Taco punya Ibu gue pun nggak ada kerupuk babinya, hanya ada potongan lidah sapi yang empuk, agak kenyal, dan gurih, Guacamole, dan saus salsa. Sekian. Meskipun rasanya tetap enak dan menyenagkan, tetap saja nggak ada elemen yang bikin nendang. Sama kayak makan tahu gejrot pakai kuah pedas, asam, manisnya, tapi nggak ada potongan cabe dan bawang merah. Nggak nendang. Tapi, ya sudah, lah. Seenggaknya ngidam gue dari semingguan ini untuk makan Taco terselesaikan.

Lalu kemudian, ada aja lagi yang miss, yaitu saat mau bayar. Mereka nggak ada uang kembalian. Alhasil, gue dan Ibu gue harus menunggu lagi selagi salah satu abang waiter-nya nuker duit, baru kami bisa pulang. Itu pun kembaliannya nggak sesuai, karena mereka nggak punya koin Rp500,00. Mungkin, kalau gue jadi pedagang, gue akan siap sedia seember koin lima ratusan. Biar kalau ada pelanggang bayar dan butuh kembalian, gue kasih serenceng lima ratusan dibalut selotip sekalian.


P.S. Buat kalian yang belum pernah nyemil-nyemil lucu di SNCTRY, kalian harus coba ke sana. Meskipun harganya agak kurang bersahabat untuk mahasiswa dan pelajar, tapi kualitasnya memang bagus banget. Tadi gue beli dua botol fresh-pressed juice botolan yang udah ready, yaitu Berry Glow Juice dan Refresh Juice.

Berry Glow adalah jus dari campuran buah strawberry, apel, kelapa, dan air kelapa. Rasanya manis, agak kecut dari buah apelnya, dan rasa strawberrynya sangat dominan. Gue suka banget! Sementara Refresh Juice, yang terbuat dari campuran buah melon, timun, apel, daun mint, dan lemon itu lebih ke segar dengan kombinasi rasanya yang lebih unik. Ibu gue doyan banget yang ini.

Kebetulan, saat gue beli, pas lagi ownernya yang jaga. Beliau ternyata adalah saudara dari salah satu teman gue di STPI. Cantik dan ramah banget dengan pelanggan, gue sampai salah tingkah. Mau salam dan bilang, "Kak, aku ngefans banget sama SNCTRY, makanannya enak-enak!" tapi malu.



Taco Local
Pelaspas Dharmawangsa
Jl. Dharmawangsa Raya No. 4

Opening Hours:
Monday - Thursday: 12PM - 10PM
Friday - Saturday: 12PM - 12AM
Sunday: 9AM - 9PM


SCNTRY
Pelaspas Dharmawangsa
Jl. Dharmawangsa Raya No. 4

Opening Hours:
Monday - Friday: 7AM - 8PM
Saturday - Sunday: 8AM - 7PM

Saturday, April 15, 2017

Perjuangan Beli Keripik

Udah hampir enam bulan lamanya gue nggak terbang dan gue kangen. Dulu, bisa setiap hari gue terbang, bahkan dua sampai tiga kali dalam satu hari. Gempor, sih, untungnya nggak sampai thypus, but it was fun while it lasts. 

Ada, dari seluruh penerbangan yang gue lakuin semasa gue jadi taruna, yang paling nggak bisa gue lupain, yaitu pas terbang solo gue ke Lampung. Gue benar-benar terbang sendirian ke Lampung dan saat itu cuacanya lagi kacau. Sekacau jamban yang habis dimampirin setelah semalamnya gue makan Samyang dan Sate Taichan pakai Bon Cabe. Kebayang, kan?


Gue berangkatnya udah agak siang, sekitar jam sembilan lewat. Padahal harusnya gue terbang jam tujuh pagi, tapi karena satu dan lain hal, gue harus berangkat dua jam setelahnya. Jam segitu, langit udah mulai dipenuhi awan, namanya awan cumulus. Semakin siang, semakin banyak awan, dan ukurannya semakin besar.

Gue paling takut sama yang namanya turbulance. Mau itu karena masuk awan, ketampar angin, maupun goyangan kecil karena pas takeoff dapat crosswind, semuanya gue nggak suka. Untungnya, pas pergi ke Lampung, cuacanya masih bagus, jadinya adem-adem aja dan semuanya berjalan dengan lancar. Tapi, pas balik ke Budiarto, gue harus nembus awan gegara waktu itu udah satu jam menuju siang bolong dan tebal awannya nggak karuan. Gue nggak ada pilihan lain selain menembus awan, mau cari celah pun nggak bisa karena bentangan awannya rata. Setengah jam terakhir sebelum gue mendarat di Budiarto, gue sempat nggak berhenti mengucapkan, "Tuhan Yesus pimpin" setiap detiknya karena gue masuk awan. Kacau, sih, kalau disuruh ngulang lagi gue ogah. Tapi, untungnya, gue mendarat dengan selamat di Budiarto.


Nah, yang paling gue suka dari penerbangan gue ke Lampung adalah oleh-olehnya. Yak, Keripik Pisang Kepok! Dengan perjalanan ini, secuil cita-cita gue sebagai pilot, yaitu jalan-jalan keliling dunia dan nyobain setiap makanan dari setiap daerah yang gue singgahi, tercapai. Gue berhasil ke Lampung dan beli jajanan khas Lampung, yaitu si Keripik Pisang Kepok.

Dari semua varian rasa yang pernah gue coba, Melon, Strawberry, Coklat, Susu, Asin, Keju, Manis, yang paling gue suka adalah rasa coklat. It's my favorite! Keripik pisangnya renyah banget, ada yang tebal ada yang tipis, dan semuanya berbalur bubuk coklat yang bikin nagih bukan main. Gue paling demen kalau udah tinggal sisa remah-remah pisang, dengan gumpalan-gumpalan bubuk coklatnya. Sedap bukan main!


Udah menjadi tradisi kami, taruna penerbang, untuk selalu membawa oleh-oleh khas Lampung yang satu ini setiap kami menyelesaikan terbang kami ke Lampung. Gue udah melewati stage itu dan gue seneng banget. Lebih senengnya lagi, gue berhasil bawain "hasil terbang" gue ke Ibu dan Bapak gue. Mereka masing-masing gue bawain Keripik Pisang Kepok, satu rasa Keju, satunya lagi rasa Manis.

Wall's' Vanilla & Chocolate Ice Cream Sandwich

A few years back, Wall's released this Vanilla & Chocolate Ice Cream Sandwich that went popular for months. For only Rp7.500,00 you can enjoy this luxury item that you can find in, almost, every supermarket in Indonesia. Why is it a luxury item, you asked? This is because there isn't many ice cream factory here, in Indonesia, that produce Ice Cream Sandwich. Sad, right? I even think Wall's is the first one that actually have sandwiched ice cream as one of its' wade varieties of ice cream selection. 


Indonesia is rather famous for its' sugary sorbet ice cream. Strawberry flavor, mango flavor, grape flavor, you name it. All of those sugary goodness was just good while it lasts and it immediately gave me a sore throat for, at least, four days afterwards. Delicious, but deadly. 
We don't have many option for Ice Cream Sandwich like they do in the United States. We don't have any Klondike Bar, or Blue Bunny's Triple Delights, or even the Fat Boy Ice Cream Sandwich. Heck, we are even missing the famous Oreo Ice Cream Sandwich, for God's sake. The only choice of sandwiched ice cream that we have is from Wall's and Häagen-Dazs, and we all know, the last brand is not financially friendly for those who don't have jobs, yet. 


There was this period of time when I was so crazy about this Ice Cream Sandwich. A combination of vanilla and chocolate ice cream, sandwiched between soft vanilla biscuits that has printed comics on it, that costs me under ten thousand rupiah is just awesome. My boyfriend knows that I love it so much, at some points, he always brought one whenever he picked me up for a night out. 

This stuff, even though it's merely ice cream, is quite filling. It's sweet and light, but it fills your stomach for a bit, especially when you're hangry, but you're stuck in a traffic. Man, does this ice cream helps. 


Cerita (Nggak Diajak) Ngampung

Dulu, jamannya masih hidup di barak, kadang kalau lagi bosen, gue suka kabur malam-malam dengan kawan-kawan gue. Kadang gue orangnya cukup prosedur, taat peraturan maksudnya, tapi cuek-nya gue lebih besar ketimbang ketakutan gue untuk dihukum. Gue lebih pingin bersenang-senang, meskipun ada kemungkinan buruk yang bisa terjadi kedepannya, ketimbang nggak ngapa-ngapain karena takut. Akhirnya, ada suatu masa di mana gue sering banget lompat tembok barak dan kabur ke tempat hiburan terdekat. Kita, para taruna, nyebutnya "ngampung".

Ngampung ini udah ada dari jaman Bapak gue jadi taruna, dulu banget sekitar tahun 1980-an. Ada yang bilang ngampung, ada juga yang bilang "ngota", yang arti kasarnya adalah main ke kampung, atau ke kota. Sederhananya, kita kabur dari barak untuk cari hiburan.

Hiburan bagi gue saat itu adalah, nggak kurang dan nggak lebih dari, jalan dan jajan. Gue diajak ngampung buat beli martabak aja udah seneng, apalagi waktu itu sering diajak ngampung ke Enigma. Enigma itu adalah semacam tempat nongkrong di Serpong - bisa makan, bisa mimik-mimik cantik, bisa juga main billiard - cuma sekitar setengah jam perjalanan pakai kendaraan sewaan dari barak.

Dalam hal ngampung, gue hanya sebagai profokator pada siang hari, yang tugasnya manas-manasin kawan-kawan gue dengan, "Eh, ngampung, yuk!" atau "Aduh, pingin martabak, deh." Masalah jadi ngampung atau nggaknya tergantung inisiatif yang lain, pada mau gerak, atau pada males. Biasanya gue selalu dikabarin sahabat gue kalau jadi jalan. "Ket, ikut ngampung, nggak," katanya. Gue akan ngampung kalau dia ngajak, tapi nggak pernah gue inisiatif ngampung sendiri, kecuali waktu itu saat gue dan teman-teman barak gue ngidam banget makan pizza dan akhirnya gue nekad kabur berduaan naik motor demi beli dua loyang Pizza Hut. Dedikasi tanpa batas!

Pernah suatu kali, gue nggak diajak ngampung, entah alasannya kenapa. Sedih, dong, rasanya kayak didepak dari geng, padahal mungkin dia cuma lupa ngajak aja. I have this tendency to overthink stuff and take something way far more serious than it should be, but I forced myself not to dan pura-pura nitip martabak sebagai oleh-oleh. "Mau martabak, hehehe," kata gue manja dan dibalas dengan, "Mahal, ngapain juga beliin lo martabak." Rasanya pingin nyebur ke sawah sebelah barak.

Berhubung barak gue difasilitasi dengan modem wifi.id, jadilah gue begadang berduaan dengan laptop, sementara dua teman barak gue udah pada di dunia mimpi masing-masing. Tiba-tiba gue dapat LINE call dari salah satu kawan gue, menginstruksikan gue untuk ke koridor barak. "Ket, koridor bentar, dah," katanya.

"Ngapain, Pin" tanya gue.

"Dibawain martabak nih sama si Puki," balasnya.


Wah, langsung lupa diri. Gue mencolot dari kasur, buru-buru pakai celana training dan kaos olahraga, dan meluncur ke koridor barak. Waktu itu belum ada CCTV, jadi taruna masih bebas berkeliaran diatas jam tidur. Kalau sekarang, mah, udah lebih ketat.

Bener, dong, gue dibawain martabak. Pertama dan terakhir kalinya. Dan gue sekaget itu karena gue tau betapa meditnya sahabat gue yang satu itu (baca cerita gue yang ini, deh). Seketika langsung seneng. Setelah gue terima kotak martabaknya, gue balik ke barak, dan bangunin teman-teman gue.

"Wey, martabak, nih," teriak gue.

Ngemil, deh. Abis itu ngantuk. Kemudian tidur nyenyak.



Bagi gue, orang yang paling baik di dunia adalah orang yang ngasih gue makanan. And, boy, you're one and always have been. 

Anti-socializing at Saint Cinnamon

I just found this cozy spot at Saint Cinnamon a few days ago as I waited for my boyfriend to come. It's a corner on the first floor, adjacent to the stairs that will lead you up to some tables that you can occupy on the second floor, and it is quite isolated from the rest of the seat and tables. Yes, I can be quite an anti-social if I want to and that day was it.

I ordered myself a glass of Hot Cocoa, grabbed some magazines that I can read at the cafe, and crashed myself at the hiding corner. I was invisible.. sort of. People came into the cafe, placed their orders, and I overheard them murmured about how they want to sit at the corner spot that I was occupying at that moment. I couldn't help but to giggle, like the crazy person I am, when they were taken aback by the sighting of my legs on the sofa. "Eh, ada orang," they said, shyly walking away. Gold.


I do enjoy the atmosphere at this particular Saint Cinnamon, located at one of the Ruko (Rumah Toko) in Sentra Eropa, Kota Wisata. It is very quiet, unlike other cafes that I have visited before, and rather isolated. There isn't much interaction with the waitresses, which is good when I'm not in the mood to converse with human, and the crowd are not as intense as Starbucks. I could literary spend hours of being alone with my magazines and Hot Cocoa here. Nice, right?

But, there was a time when my boyfriend and I were so pumped up protecting Radiant from the evil army of Dire we ended up setting our very own warnet (warung internet) at the second floor of Saint Cinnamon. We had our gaming gears ready and played a few matches, not giving any care about the other consumers and their Hot Dilmah Tea. It's a good thing the cafe provide free wifi.



Saint Cinnamon & Coffee
Kota Wisata, Ruko Sentra Eropa
Jl. Transyogie, Cibubur, Bogor

Opening Hours:
Monday - Sunday: 10AM - 10PM

Binge-eating Like a Pro

Currently binge-watching F.R.I.E.N.D.S. for the umpteenth time in my twenty two years of living on the planet Earth. I am supposed to be studying, but I couldn't bring myself to open that module of Cessna Caravan EX and make notes about its' Engine Operating Limitation. Any moments now before that wave of guilt crashes into me. 

Anyways. Who binge-watch a Tv series without binge-eating on some snacks, right? I have ate two blocks of this 72% Cacao GODIVA Dark Chocolate bar and I quite enjoy it. I'm not a big fan of dark chocolate, but this one is rather enjoyable. Very bitter, yet sweet and smooth in a way. It had a sour aftertaste from the bitterness, very similar to the aftertaste of sipping a nice shot of good Espresso. 

Now, I shall continue my procrastination and you are more than welcome to join me..